Monday, October 03, 2011

Arya Putra Mahendra, 26 Agustus 2011

Anakku Arya,

Dalam Bahasa Sansekerta, “Arya” berarti budi pekerti yang luhur, mencintai dan menjalani perintah Tuhan, serta selalu berpihak pada kebenaran. Kami memberimu nama Arya, agar sepanjang hidupmu, engkau selalu menjaga budi pekertimu, cinta dan patuh pada Tuhan, serta berpihak pada kebenaran.

Mengucap syukurlah pada Tuhan, anakku, karena sampai hari ini, Tuhan memberikan orang tua yang mencintaimu, kakak dan adik yang merindukanmu, saudara-saudara yang memperhatikanmu, dan teman-teman yang menyenangkan hatimu.

Sepuluh tahun sudah, Tuhan menyertaimu, memberimu hidup yang memberimu begitu banyak pengalaman. Bapak dan Ibu berharap dan memohon kepada Tuhan, agar kau dapat terus diberkati Tuhan, menjadi anak yang terus tumbuh menjadi anak yang mencintai Tuhan, mencintai kehidupan, dan mencintai keluarga.

Selamat ulang tahun ke-10 anakku, kiranya berkat dan perlindungan Tuhan melingkupimu senantiasa.

Dengan cinta,
Bapak & Ibu

Nindita Putri Padmana

Nindita Putri Padmana, hari ini usiamu 8 tahun. Selamat ulang tahun ya Nak... Berkat Tuhan kiranya selalu melingkupimu, dalam masa-masa tumbuh-kembangmu. Bapak dan Ibu memanjatkan puji syukur kepada Tuhan, karena begitu besar penyertaanNya dalam hidupmu dan hidup kita sekeluarga. Bapak dan Ibu memohon kepada Tuhan, agar Dia memberikan lebih banyak kesempatan kepada kita untuk bersama-sama menjalani hidup. Bapak dan Ibu, dengan penuh kerendahan hati, meminta kepada Tuhan, agar kami diberi kesehatan, kesabaran, serta berkat untuk dapat membimbingmu sampai saatnya nanti.

Nindita, namamu kami ambil dari bahasa Sansekerta. Nindita itu berarti tak bercela, utama, mulia. Padmana, atau padma, dalam bahasa Sansekerta adalah bunga teratai. Bunga cantik yang tumbuh di air, yang karena kecantikannya banyak ditanam di taman yang indah.

Dalam namamu, terkandung harapan Bapak dan Ibu, agar kau jadi anak yang mulia dan cantik, baik dalam pikiran, tutur kata, maupun perbuatan. Dalam namamu, terkandung harapan Bapak dan Ibu agar dalam hidupmu, engkau mengutamakan kemuliaan dan mengupayakan kesempurnaan.

Dalam hidupmu, upayakanlah dengan sepenuh upayamu untuk menerapkan hal-hal baik yang terkandung dalam namamu, ya Nak... Lakukan itu sebagai ungkapan syukur pada Tuhan, yang telah menganugerahkan hidup kepadamu.

Selamat ulang Tahun Nak, Bapak dan Ibu selalu mengasihimu.

Bandung, 01 Oktober 2011

Saturday, November 13, 2010

Some Naughty Pics from Europe

Most were shots using Canon Canon EF 70-200mm f/4 L IS USM. And all were candid for sure.... ;)









Saturday, September 25, 2010

Namanya Arya


Ceritanya nyusul, entah kapan... :-)

Time Flies!

Belakangan merasa bahwa waktu bukan hanya berjalan dengan cepat, tapi terbang! Jadi ingat sebuah kartun berjudul "Missing Piece", menggambarkan Mr. Big O yang merasa tidak sempurna dan berupaya mencari kesempurnaan. 'Kesempurnaan' itu ditemukan, tapi kemudian Mr. Big O merasa kehilangan hal-hal penting dalam hidupnya. 




Di akhir cerita, Mr. Big O meninggalkan 'kesempurnaan' yang diperolehnya dengan susah payah itu, dan berkesimpulan bahwa dia sempurna dalam ketidaksempurnaannya.     


Bila merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat, ada baiknya untuk STOP & THINK. Keluarkan alat navigasi, dan cek lagi, apakah kita menuju ke arah yang memang hendak kita tuju. Kalau ternyata tidak, buru-buru tetapkan arah yang sesuai dengan tujuan. Bila tidak, maka pada akhirnya akan sampai pada tujuan, tapi tidak merasa tujuannya tercapai. 

Friday, August 13, 2010

Moving Fast

Ndak terasa, udah pertengahan 2010. Time flies, they said....

Habis kena Demam Berdarah. Enam hari di RS. Sentosa, Bandung. Enam hari yang membosankan dan mengingatkanku tentang betapa pentingnya sehat. Betapa fundamentalnya kesehatan dalam arsitektur kehidupan manusia. 

Banyak perhatian, dukungan, dan bantuan. Untuk semuanya itu: terima kasih banyak. 

Masuk lagi ke dunia kerja. TMIS, HR Excellence Award, TIF, TPMS, blueprints, and many more. 

Dinikmati, dilewati satu demi satu, dengan persisten dan konsisten. 

 

Thursday, January 14, 2010

Just a Single Line Entry

Pada akhirnya, true quality dari seorang leader akan tercermin justru pada saat dia meninggalkan organisasi. Apabila tim yang ditinggalkan tetap bagus dan hebat, maka mungkin leader itu sudah mengerjakan PR tersulitnya dengan baik.

Sebaliknya, bila sepeninggalan sang leader, tim kemudian berantakan, best practices yang sudah ada hilang entah kemana, pencapaian tim merosot, maka bisa jadi, leader itu gagal dalam menyelesaikan PR-nya.

Maka yang terbaik adalah memanfaatkan teori situational leadership dengan sebaik-baiknya. Bergeser secara cerdas dari kutub direktif ke kutub fasilitatif, sehingga tim punya kesempatan untuk berbuat salah, mengambil resiko yang terukur, dan mendorong tim untuk menabrak keterbatasan kemampuan mereka.

Tuesday, January 05, 2010

Entering 2010

(diambil dari emailku ke seluruh leaders di Divisi General Support)

Dearest Leaders,


Ada beberapa hal saya belajar di sepanjang 2009, yang saya ingin share:

Leaders Lead
Tugas leader adalah memimpin. Memimpin adalah memberikan guideline, memastikan agar guideline berjalan seperti seharusnya, dan memberikan masukan yang diperlukan agar tim dapat meraih target-target sesuai rencana. Sampai disitu mungkin mudah, tadi sebagai leader kita juga harus ambil seluruh tanggung jawab yang diberikan kepada kita, mengambil seluruh masalah yang ada di bagian kita, dan mempertanggungjawabkan seluruh kesalahan yang mungkin saja terjadi sepanjang jalan. Dalam peran Lead-nya, seorang leader juga harus bisa memberikan inspirasi kepada tim-nya - menunjukkan arah yang akan dituju, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Masih dalam peran Lead-nya, seorang leader juga harus sabar - karena seringkali mimpinya tidak terjadi secepat dan sesempurna yang dia inginkan.

Leaders Serve
Tugas leader adalah melayani. Melayani seluruh stakeholdernya, termasuk tim-nya. Yang saya maksud dengan melayani anak buah, adalah memberikan otoritas, aturan main, dana, mendengarkan keluhan, dan peluang untuk mengambil resiko agar timnya dapat bekerja dengan maksimal. Dengan demikian, timnya akan memiliki kesempatan untuk tumbuh. Dari situasi seperti itulah leader itu akan mencetak leader yang lain.

Leaders Listen
Semakin tinggi posisi seorang leader, dia harus semakin punya 'pendengaran' yang baik. Ibaratnya begini, saat dia berdiri di lantai 2, relatif mudah mendengarkan teriakan dari lantai 1. Saat dia berada di lantai 4 atau lebih, teriakan dari lantai 1 akan hanya sayup-sayup terdengar. Maka leader harus memiliki 'pendengaran' yang baik. Salah satu alat untuk mempertahankan 'kemampuan mendengar' adalah turun ke lapangan. Dari situ leader akan menemukan fakta-fakta brutal yang mungkin tidak dapat ditemuinya saat ia berada di kursinya yang nyaman.

Leaders Take Risk
Tugas leader adalah mengambil resiko. Menurut saya, dalam istilah leader, terkandung makna mengambil resiko, saat dia harus menghadapi situasi yang belum pernah dia hadapi dan akan berdampak signifikan dalam bidang kerjanya. Leader yang tidak berani ambil resiko dan selalu ambil keputusan aman - menurut saya - bukan leader.

Leaders Take The Blame and Correct Mistakes
Ada kalanya leader harus maju kedepan dengan rendah hati untuk mengakui kesalahan yang kadang dia/timnya perbuat. Itu saja belum cukup. Dia juga harus memastikan agar kesalahan yang sama tidak lagi terjadi di masa yang akan datang. Itu saja belum cukup. Leader kemudian harus mencari tahu siapa yang harus bertanggungjawab terhadap kesalahan yang terjadi, memastikan bahwa timnya memahami kenapa hal tersebut salah dan menetapkan sanksi apabila diperlukan. Leader tidak menyalahkan orang lain, masa lalu, pihak lain, atau apapun yang ada dalam scope tanggungjawabnya.

Leaders Sets Examples
Pemimpin memberikan contoh. Contoh yang paling manjur adalah perilaku. Jadi leader harus terus-menerus menjaga dan memastikan bahwa apa yang dilakukannya, sama dengan apa yang dikatakannya. Dari situ respect dari tim akan tumbuh, dan respect itu akan menumbuhkan komitmen tim untuk mencapai tujuannya.

Saya - sebagai pribadi - juga masih dalam proses tumbuh berkembang, masih sangat jauh dari sempurna. Saya mohon maaf, untuk segala kesalahan, kelalaian, dan ketidakkonsistenan yang pasti pernah saya lakukan di 2009.

Selamat memasuki great and challenging 2010 - semoga Tuhan memberkati kita semua.


Thanks & regards,
Adi
---

Friday, September 11, 2009

A Trip with TPR

Bulan Agustus kemarin dapat kesempatan langka pergi bareng Pak Teddy Rachmat ke Manado. Buat yang belum tau, Pak Theodore Permadi Rachmat (TPR) adalah mantan orang no. 1-nya Astra International. Bisa dibilang beliau ini yang membangun Astra dari tahun 70-an sampai 2000-an. Sekarang beliau sedang membangun business entity baru, Triputra Group (www.triputra-group.com). Belum sampai 10 tahun, selama 2 tahun terakhir pencapaian group baru-nya ini sudah cukup impresif: top 10 business entity di Indonesia (based on revenue) versi majalah Globe Asia.

Jalan bareng Pak Teddy, selalu insightful, mengingatkan dan menyadarkan, sekaligus mengandung kesempatan langka untuk memahami cara berpikir orang yang bisa membawa Astra International menjadi salah satu barometer penting korporasi di Indonesia, yang terus tumbuh dan bertahan dalam berbagai kurun jaman.

1. Arsitektur Bisnis itu Penting
Always begin with end in mind. Kalau mau mulai bisnis, harus punya blueprint dari bisnis itu mau seperti apa. Blueprint itu akan menjadi pengarah dalam perkembangan perusahaan, lebih-lebih lagi saat perusahaan sedang dalam situasi yang tidak mudah. Agar blueprint matang, saat pembuatannya, "Always ask the right question." Pertanyaan yang tepat akan membuat blueprint matang dan benar-benar bisa diacu sepanjang perjalanan perusahaan. Saat mengalami kesulitan mengambil keputusan, "Refer to that when deciding.", begitu kata Pak TPR.

2. Speed, Speed, Speed
Untuk bisa survive dan bertumbuh dalam berbisnis, kecepatan sangat penting. Situasi yang paling mengerikan adalah: no strategy, no decision. Perusahaan yang berada dalam situasi seperti itu akan menjadi perusahaan yang tidak efisien dan tidak akan survive dalam industrinya.

3. Jangan Pikir Efisiensi Dulu
Ini menarik: di awal berbisnis, jangan berpikir efisiensi dulu. Kata Pak TPR, "Jangan berpikir efisiensi dulu, bisnis tidak akan jadi kalau pupuknya 'diincrit-incrit'." Beliau sudah sampai pada posisi pemahaman, bahwa bisnis memang perlu capital, dan shareholder harus betul-betul memahami filosofi ini. Maka yang paling penting bagi shareholder, adalah bahwa para eksekutifnya memiliki dan meyakini business blueprint mereka. Apabila blueprint ada, dan dieksekusi dengan disiplin tinggi, maka ROI is only a matter of time.

4. Dominance: Bikin Kompetitor Sesak Napas
Ini mengenai momentum. Saat kita berada di atas angin, dibanding kompetitor, jangan berhenti. Hajar terus kompetitor hingga mereka sesak napas - tentu dengan cara yang etis dan terpuji, proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dan tidak ragu-ragu. Pilihan dalam berbisnis, kata beliau, hanya 2: dominan atau tutup.

5. People: Character, Passion, Discipline
People, tetap jadi yang paling penting. Dan memilih orang harus memperhatikan ketiga hal di atas. Urutannya juga harus seperti itu, tidak boleh diubah-ubah. Karakter yang nomor satu, karena itu relatif given, sulit diubah, dan mewarnai pikiran, perasaan, serta tindakan seseorang. Passion yang nomor dua. Passion bicara soal inner driver. Orang yang punya passion, punya mimpi. Orang yang punya mimpi, akan terobsesi dengan mimpinya dan berusaha mewujudkannya. Jadi orang yang punya passion tidak perlu sering dikipas-kipas atau ditiup-tiup supaya 'menyala'. Yang ketiga, disiplin. Beliau bilang, bahwa sejak awal beliau kerja dulu, beliau tidak pernah datang lebih telat dari jam 8:15 WIB di kantor. Mewujudkan mimpi, tidak sekedar hanya perlu blueprint dan orang-orang yang pintar, tapi juga perlu disiplin. Kedisiplinan untuk menjalani rencana, kendala, dan tantangan yang terjadi sepanjang jalan. Kedisiplinan yang tinggi akan mendorong terjadinya proses eksekusi rencana dengan maksimal.

6. Jangan Batasi Diri
Beliau sampaikan begitu, "Kapan saya sebagai shareholder menanyakan profit pada kalian? Kalian beruntung, karena tidak banyak shareholder yang seperti itu. Makanya, jangan membatasi diri!" Maksud beliau, kesempatan untuk menjadi dominan selalu beliau berikan kepada seluruh leader dalam entity-nya. "Maka the only things that makes a big difference is: are you making a limit for yourself?" Beliau menambahkan, tidak membatasi diri, tidak membatasi mimpi mengandung resiko. Orang yang berani mendobrak batas diri harus 'willing to bid a price'. Bermimpi besar, pengorbanannya besar. Mindset itu penting, agar mimpi besar dapat jadi kenyataan.

7. Jangan Karenanya 'How'-nya Sulit, What-nya Tidak Tercapai
Kadang orang terbentur pada 'how', dan kemudian 'what'-nya tidak tercapai. Orang hidup harus jelas what dan how-nya. What-nya adalah hal-hal yang menurut kita penting dalam hidup. How adalah bagaimana what tersebut dicapai. Keyakinan terhadap what harus kuat dan melandasi hidup, sehingga bila kadang how-nya sulit, orang tidak menyerah begitu saja. Dalam bisnis, sering terjadi kendala yang sifatnya teknis, dan kadang kendala tersebut membuat organisasi menyerah dan tidak mencapai tujuan-tujuan pentingnya. Itu tidak akan terjadi, apabila organisasi memiliki keyakinan terhadap kebenaran dan pentingnya 'What'-nya, serta memiliki passion dan disiplin yang cukup. How seharusnya tidak menghalangi pencapaian What - itu intinya.

Wednesday, October 22, 2008

Gusti Allah Ora Ndeso (Emha Ainun Nadjib)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.

"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.

Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Pursuing Dreams Bigger than Ourselves

Hingga ke jenjang aktualisasi dirinya yang sudah cukup tinggipun, nampak bahwa TPR masih belajar. Mengikuti pola pikir dan filosofinya sejak 1995, terlihat bahwa beliau masih terus menangkap hal baru dalam pengalaman hidupnya. Ini tercermin dari buku “Triputra Values - Pursuing Dreams Bigger than Ourselves” yang diluncurkan bersamaan dengan ulang tahun Triputra ke-10.


Mengenai people misalnya, dulu beliau tegaskan 2 hal terpenting: character & competence. Sekarang beliau tambah 1 lagi: drive. Semoga bukan karena banyak leader yang dirasa kurang drive-nya. 


Walaupun mungkin benar, buktinya, salah satu tema dalam President Message tahun 2008 adalah Operational Excellence. Tahun 2009, muncul tema “Rapih, Rapih, Rapih”. Bukankah salah satu esensi Operational Excellence adalah kerapihan bisnis? Mungkin beliau belum terlalu puas dengan kerapihan manajemen dalam perusahaan2 miliknya.


Kalimat berikut versiku sendiri mengenai pentingnya drive, “Seberapa bagus hasil kerjamu? Jawabannya secara kualitatif selalu seperti ini: tergantung 3 hal: passion, konsistensi, dan pemahaman serta keyakinanmu terhadap tujuan dan bentuk akhir dari hasil kerjamu itu.


Begitu banyak bukti menunjukkan, bahwa kualitas hasil kerja yang buruk, tidak selalu berakar pada ketidakmampuan secara teknis. Ketiga hal tersebut di atas, dalam intensitas yang cukup, akan mendobrak berbagai keterbatasan teknis. Yang sulit jadi mudah, yang berat jadi ringan, yang jauh jadi dekat.


Passion itu kunci mesinmu. Dia menyalakan kemampuan kita. 


Konsistensi itu bahan bakar yang akan memampukan kita mencapai tujuan, sejauh apapun. 


Pemahaman dan keyakinanmu terhadap tujuan dan bentuk akhir itu GPS, yang akan selalu memandu kita pada arah yang telah ditetapkan.


Terkait dengan karakter seorang leader, ada statement yang menarik dari TPR, “Leader tidak melakukan sesuatu for his/her own glory. Leader melakukan sesuatu for their team’s glory.” Tambahnya, “Seharusnya piramidanya dibalik, dan leader berada di bagian paling bawah piramida.” Mungkin ini bahasa teorinya adalah Servant Leadership (kepemimpinan yang melayani). 


Social concern yang besar, tersirat juga pada pernyataannya mengenai bagaimana leader harus bersikap menghadapi anak buah yang kurang kompeten. “Leader yang baik tidak meninggalkan anak buahnya. Leader memberikan kesempatan, memperbaiki, dan mendorong anak buahnya mencapai tujuan.” Beliau membandingkannya dengan model manajemen Barat, yang bahkan memiliki sistem yang ‘secara otomatis’ membuang orang yang tidak perform. 


Sebaliknya, mengenai integritas, beliau berkata, “Untuk tindakan yang bertujuan memperkaya diri sendiri, kita tidak perlu memberikan toleransi.” Ketegasan posisinya dalam hal integritas, sangat nyata dan nampak sekali bahwa bagi beliau, hal ini sangat penting dan not negotiable. 


Mengenai good corporate governance, beliau menyatakan, “100% atau tidak sama sekali. Kita akan dikenang sebagai orang yang bersih, atau tidak bersih.” Beliau berpendapat bahwa bersih dan tidak bersih adalah sesuatu yang absolut, tidak bersifat berjenjang. Bahwa secara teknis GCG dilaksanakan secara gradual, yes, karena seringkali GCG terkait dengan compliance terhadap peraturan dan menimbulkan efek finansial. 


Yang juga menarik adalah motif yang mendasari TPR untuk tetap berkarya setelah selesai di Astra. “Saya akan terus berkarya sampai tidak ada masyarakat Indonesia yang miskin.” Motif yang sudah far beyond economical motives. 


Bersyukur punya owner yang memiliki motif pribadi seperti itu. Setidaknya, motif tersebut membuat keputusan yang dibuat cenderung bersifat jangka panjang, mementingkan proses, dan tidak semata-mata mengejar short result yang kadang membuat orang bersikap pragmatis. 


Mengenai values, dengan sangat jelas beliau menyatakan bahwa tanggung jawab value building ada di masing-masing business leader. Kalau business leader ‘paranoid’ soal value, dengan cepat value dapat terbentuk. Values dinyatakannya sebagai elemen yang memberikan guideline dalam pencapaian target, a guiding principles. Leaders can make a dramatic changes. Satu orang cukup, untuk membuat perubahan yang luar biasa. Dari situ nampak adanya tuntutan yang luar biasa dari TPR terhadap jajaran leadernya. 


Satu statement yang menurutku impresif: angka itu hanya scorecard. Saat kebanyakan pengusaha memandang angka sebagai tujuan akhir, beliau menilai angka sebagai semacam rapor atas excellence kita. Dan itu bukan hanya di level kata-kata. Cukup banyak bukti di masa lalu, yang membenarkan keyakinan beliau tersebut. Betapa beliau mau rugi secara angka, sejauh beliau masih melihat adanya kesungguhan, konsistensi, dan kegigihan dari sebuah organisasi. 


Balik lagi, sungguh beruntung punya owner dengan kualitas seperti beliau. Ibaratnya, semua sudah disiapkan, tinggal kita teruskan. Tidak usah susah payah menyamakan hal-hal yang fundamental, yang bisa makan waktu lama dan bahkan bisa membuat chaos dan meruntuhkan organisasi.


Jadi ingat tag line-nya A-Mild. Jadi tua itu pasti, tapi jadi dewasa, itu pilihan. Semoga Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada kita semua, agar kita menjadi tua dan dewasa. 


Semoga Tuhan memberkati Pak TPR, agar beliau diberi kesehatan dan umur yang panjang, sehingga dapat terus mengabdi buat bangsa dan menjadi mentor bagi kita semua. 




 






Tuesday, September 16, 2008

Mau vs. Mampu

Ilustrasinya gini, ada temen kantor yang impressed with my presentation about Macbook, dan akhirnya memutuskan beli. 

Dicoba se-klik - dua-klik, sampailah dia pada kesimpulan bahwa dia tidak bisa pakai Macbook itu. Akhir cerita, itu Macbook dijual.... :-), sebelum sempat dipakai. 

Itu contoh masalah mau-nggak mau. Aku kok ragu, kalau ada orang yang berpendapat bahwa belajar OS baru itu sulit. Itu mind-set. Kalau mind-set bilang nggak bisa, ya nggak bisa jadinya. Kalau mind-set bilang bisa, yang bisalah jadinya.

Mungkin nggak semudah itu dalam kenyataan, tapi 'will power' memang ampuh. Dia bisa turning impossibilities into possibilities. Dan yang lebih luar biasa, pilihannya selalu dikembalikan ke kita. Mau dinyalain, tinggal nyalain. Mau dimatiin, tinggal dimatiin. 

Well, thanks to our Mighty Lord, yang memberikan otoritas untuk memilih itu. Bayangkan kalau mind set seperti itu bukan jadi pilihan buat kita. Betapa suramnya hidup ini. Ngapain hidup, tepatnya.

Satu karakter yang harus menyertai 'can do spirit': berani ambil resiko. Kalau mau, ya harus usaha. Kalau nggak mau usaha, ya jangan mau. Other words: banyak mau, banyak resiko. Tinggal diitung-itung aja, layak atau nggak.

Nyambung sebenarnya, ke 1 karakter lagi: open mindedness. Orang yang punya karakter 'can do', biasanya lebih open minded daripada yang punya karakter 'can not do'. Jadi tiga serangkainya adalah can do spirit, risk taking, dan open minded. Ibaratnya 3 in 1 lah..... 

  
 

Friday, August 29, 2008

Intinya gini......

Bagaimanapun, yang namanya hidup harus balans. Macem2 bentuk balans-nya. Bisa antara kerja sama keluarga, bisa antara mikir ke luar diri dengan ke dalam diri. Bisa juga antara memberi dan menerima. 

Khususnya untuk balans yang terakhir, kalau memberi terus, tapi nggak pernah menerima, akhirnya kering. Ibaratnya mata air, harus rutin cek lingkungan supaya mata air terjaga. Kalau nggak gitu, ya lama-lama kering itu mata air... 

Bahaya juga sih, kalau memberi terus, kemudian merasa cukup, dan kemudian lupa bahwa kita juga perlu diberi. Ini bukan mengenai uang lho ya.... :-) Lupa bahwa kita perlu diberi, termasuk lupa bahwa orang musti recharge, musti terus tumbuh, terus mendengar, terus rendah hati, terus melihat dan mengamati. 

Musti bersyukur juga sih, atas beberapa hal yang terjadi belakangan ini. Jadi sadar lagi, bahwa orang bisa aja mati tanpa harus benar2 mati secara medis. Kematian non medis ini triggernya adalah kurang balans-nya hidup, I guess. 

Mungkin ini yang harus dilakukan: genggam erat lagi pegangan hidup, urai - what is your first things, pastikan itu kokoh, jalani hidup dengan alert in mind bahwa semua perlu balans. 






Sunday, January 13, 2008

Pak Harto Sakit

Duduk di pinggir kolam Hotel Trio, Bandung. Ngawasin anak-anak berenang sambil browsing, berbekal Macbook & modem 3G-nya Indosat (Huawei E220).

Udah beberapa hari Pak Harto sakit. Sakitnya menyita perhatian Indonesia, Asia, dan dunia. CNN-pun secara khusus memonitor perkembangannya. 

Rasanya perhatian ini lebih terpusat pada pertanyaan dan wacana mengenai status hukum beliau dalm kondisi seperti ini, dan apabila Tuhan ternyata berencana memanggilnya. 

Ada yang menuntut agar beliau segera diproses secara hukum dan ditetapkan statusnya sekarang. Ada yang minta beliau dimaafkan dari segala 'dosanya'. 

Rasanya kok gak pantas ya, membahas masalah itu dalam situasi seperti ini. Barusan dapat info dari detik.com, kesehatan beliau makin memburuk. Dari bahasa press release dokter2nya, kayaknya sih udah full pakai life-support. Tinggal diputuskan oleh keluarga, mau dipakai terus life-supportnya, atau dicabut. 

Dalam bahasa manajemen, sering disebut kalimat, "Jangan mudah lupa." Dalam konteks manajemen, itu lebih berarti jangan lupa pada penyebab ketidakberhasilan, sehingga lain kali tidak gagal karena penyebab yang sama. Lebih pada repository kegagalan yang dicatat bukan untuk mengingat-ingat kesalahan, tapi untuk memastikan tidak terjadi kesalahan yang sama di depan nanti. 

Aku kok cenderung memaafkan Pak Harto. Dengan kondisinya saat ini, apa yang bisa dilakukan pada beliau? Menyeretnya ke pengadilan? Memasukkannya ke penjara? Apa pantas? 

Tidak juga berarti semuanya dimaafkan. Masih begitu banyak kroni-nya yang secara medis dan mental waras dan dapat mempertanggungjawabkan semua kesalahannya. Fokus saja ke situ.

Waduh, hujan..... nanti disambung - daripada Macbook rusak.... :-)  

Friday, February 23, 2007

Mengenai Integritas

Integritas.... kata abstrak yang sering membuat orang berdebat mengenai definisi. Kata ini sering juga membuat orang tergelincir dan jatuh.

To me, integritas itu sederhana: kualitas diri yang dimiliki, yang membuat orang tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan, meskipun ada kesempatan untuk melakukannya. Integritas tidak langsung berhubungan dengan aturan formal. Integritas adalah kekuatan hati nurani, kekuatan moral & etika, yang menghalangi kita untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, moralitas, maupun etika - dalam begitu banyak peluang yang mungkin muncul sepanjang kehidupan kita.

Aturan formal, kemudian muncul untuk memberikan garis yang lebih tegas antara yang boleh dengan yang tidak boleh. Tapi ternyata aturan itu tidak cukup, karena tidak semua aturan dapat diikuti oleh petunjuk teknis dan sistem monitoring. Kalau integritas dijalankan hanya dengan mengacu pada aturan, maka orang tidak akan merasa bersalah dan melanggar apa-apa, saat melakukan sesuatu yang tidak dilarang oleh aturan, meskipun jelas-jelas melanggar hati nurani, moralitas, ataupun etika.

Dan kemudian integritas dilihat sebagai sesuatu yang lebih kecil, lebih sempit, dan sangat terkait dengan aturan, dan tidak terkait dengan moralitas, hati nurani, ataupun etika. Sangat mirip dengan ilustrasi iklannya A-Mild yang cewek pake Honda Jazz ngambil U-turn padahal ada rambu.

Ngeri juga membayangkan betapa banyaknya dan detilnya aturan yang harus ada kalau integritas dimaknai sebagai sesuatu yang murni berdasarkan aturan..... Padahal, integrity is only a matter of how true are you to yourself.

Thursday, February 15, 2007

Tujuan Bangsa

Ceritanya gini, kemarin harus bertemu dengan salah satu petinggi salah satu kota di Jabar. Minta doa restu dan dukungan proses pembuatan sentra distribusi baru.


Berkali2 di reschedule, karena kesibukan beliau - it's OK, sepenuhnya memahami kepentingan dan kesibukan beliau.


Akhirnya bisa ketemu.
It tooks only 5-7 menit, tapi apa yang aku lihat benar2 bikin prihatin. Mungkin kalo para founder of this nation membayangkan yang ginian, mereka akan memilih untuk tidak buru-buru memerdekakan bangsa ini, dan memilih untuk lebih dulu membereskan moral dan cara pikir bangsa. Membiarkan bangsa lain yang lebih matang dan beradab mengajar dan melatih moral dan cara pikir bangsa - seperti yang dilakukan Inggris terhadap Hongkong - misalnya.

Pragmatis? Tidak nasionalis? Biarin aja, karena rasanya merdeka itu bisa jadi tidak menjadi syarat penting bangsa, pada saat bangsa itu belum memiliki moral dan cara pikir yang mendukung tercapainya tujuan kemerdekaan itu sendiri. Jauh lebih baik, daripada merdeka tapi kemudian berputar2 dalam lingkaran setan masalah yang disebabkan moral dan cara pikir.

I might be oversimplify, I might be exaggerating things.

Bagaimana seorang petinggi daerah, tanpa tedeng aling-aling, tanpa moral, mengijinkan dirinya untuk 'dibeli' oleh kekuatan ekonomi dan kepentingan bisnis. Ndak tau, ada berapa persen petinggi daerah yang seperti ini. Kalaupun cuma satu, sudah cukup untuk mengganggu arah pencapaian tujuan bangsa.

Motifnya adalah 'pengekalan kekuasaan'. Supaya kekuasaan beliau bisa 'kekal', beliau harus selalu memastikan bahwa orang2 kunci di sekelilingnya
very happy. Untuk memastikan agar orang2 kunci di sekelilingnya very happy, beliau harus memberikan lebih dari apa yang sudah mereka terima dari negara. Begitu terus, dari atas sampai ke bawah.

Andai waktu bisa ditarik mundur,
Andai aku bisa ketemu Bung Karno dan Bung Hatta (sebelum bangsa ini merdeka),
Aku mau bilang ke mereka gini,

"Bung, dari apa yang saya liat di masa depan
setelah bangsa ini merdeka,

lebih baik Bung buka tender untuk beberapa negara besar,
yang memenuhi syarat untuk menjadi penjajah
yang mampu mengembangkan moral dan cara pikir bangsa yang dijajahnya.

Bung berikan 'lah kepada pemenangnya konsesi untuk menjajah,
Bung berikan dulu 'lah kesempatan kepada pemenangnya, untuk membenahi moral dan cara pikir bangsa ini....

Nah, nanti kalo Bung liat bangsa ini sudah lebih bermoral dan dewasa cara pikirnya,
Bung cabut deh konsesinya..... dan Bung merdekakan bangsa ini.

Saya yakin Bung, hasilnya akan jauh lebih baik
daripada yang saya lihat dari masa depan.
Karena ternyata, moral dan cara pikir sebuah negara -
itulah yang menentukan kemuliaannya.







Friday, April 28, 2006

Balada Wakidjan

(dari milis tetangga)

BALADA WAKIDJAN

Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, "Not a play! Not a play!" Nadine bengong. "Not a play?"

"Yes. Not a play. Bukan main." Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. "Bukan main itu bukan not a play, Djan." "Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah periksa di kamus kok)"

Lalu berpaling ke Nadine. "Lady, let's corner (Mojok yuk). But don't think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a meal together." "Ngaco kamu, Djan," Tukidjo tambah gemes. "Don't be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch.?" Nadine cuman senyum kecil. "I would love to, but ..." "Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)" sambut Wakidjan ramah.

"Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok)." Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. "Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?"

Tukidjo cari kalimat penutup. "Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button." (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).

Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, "His name is also effort." (Namanya juga usaha)

Thursday, February 16, 2006

Big Fish? Small Fish?

Semakin banyak buku yang mempertentangkan dan mengadu pendekatan mencari income secara independen atau menjadi karyawan. Yang pertama, biasanya mengunggulkan kebebasan waktu, kemandirian dalam mengambil keputusan. Jargon utamanya menjadi "big fish in a small pond" lebih baik daripada menjadi "small fish in a big pond".

Yang kedua, biasanya mengunggulkan konsisten income, keamanan kerja, dan financial planning untuk bisa 'berkompetisi' dengan aliran pertama. Jargon utamanya yang sebaliknya, "small fish in a big pond is more secure" daripada "big fish in a small pond".

Herannya, nggak ada yang nulis mengenai fact bahwa kedua aliran ini sebenarnya bisa dipilih semua. Bahwa bisa saja berperan jadi big fish dan small fish dalam waktu yang bersamaan. Faktanya banyak sekali yang seperti itu. Begitu usia menginjak mid-30, rasanya 70-80% dari populasi aliran kedua sudah mulai punya small pond masing-masing, tapi tetap juga mempertahankan big pond-nya.

Personally, rasanya lebih setuju dengan aliran ketiga itu. Bisa kok. Sudah terbukti. Perlu energi agak lebih, perlu atur waktu lebih pinter. Untungnya, ya sederhana saja, keuntungan kedua aliran digabung jadi satu. Kalaupun kemudian merasa pengin jadi big fish, ya go ahead. Kalaupun kemudian merasa jadi small fish sudah cukup, ya sudah be a good and productive small fish.

Gampang kan? Ayo, bikin buku aliran ketiga itu - semoga laku!







Big Fish? Small Fish?

Semakin banyak buku yang mempertentangkan dan mengadu pendekatan mencari income secara independen atau menjadi karyawan. Yang pertama, biasanya mengunggulkan kebebasan waktu, kemandirian dalam mengambil keputusan. Jargon utamanya menjadi "big fish in a small pond" lebih baik daripada menjadi "small fish in a big pond".

Yang kedua, biasanya mengunggulkan konsisten income, keamanan kerja, dan financial planning untuk bisa 'berkompetisi' dengan aliran pertama. Jargon utamanya yang sebaliknya, "small fish in a big pond is more secure" daripada "big fish in a small pond".

Herannya, nggak ada yang nulis mengenai fact bahwa kedua aliran ini sebenarnya bisa dipilih semua. Bahwa bisa saja berperan jadi big fish dan small fish dalam waktu yang bersamaan. Faktanya banyak sekali yang seperti itu. Begitu usia menginjak mid-30, rasanya 70-80% dari populasi aliran kedua sudah mulai punya small pond masing-masing, tapi tetap juga mempertahankan big pond-nya.

Personally, rasanya lebih setuju dengan aliran ketiga itu. Bisa kok. Sudah terbukti. Perlu energi agak lebih, perlu atur waktu lebih pinter. Untungnya, ya sederhana saja, keuntungan kedua aliran digabung jadi satu. Kalaupun kemudian merasa pengin jadi big fish, ya go ahead. Kalaupun kemudian merasa jadi small fish sudah cukup, ya sudah be a good and productive small fish.

Gampang kan? Ayo, bikin buku aliran ketiga itu - semoga laku!







Monday, November 28, 2005

Hati Tenang, Menulis Jarang

Hehehe... hati tenang, menulis jarang.

Terakhir nulis disini bulan Januari 2005. Sekarang udah akhir November. Udah hampir 1 tahun.

So many things happened. Good things - thanks to God. Semoga 'alert' dalam diri selalu ada, nggak terlena dengan equilibrium yang sekarang terasa.

Kenapa ya, kalo hatiku tenang, tulisanku otomatis menjarang. Secara psikologis, mungkin karena hati tenang, nggak mikir banyak tentang hidup, nggak sedang struggling inside. Sementara pas hati gundah, menulis jadi cara untuk meringankan masalah - bahkan kadang memecahkan masalah.

Secara fisiologis, mungkin karena tidak terlalu banyak waktu sendiri, jadi lebih sering hang-out sama keluarga, bicara, berpikir, memecahkan masalah di lingkaran itu.

Gitu aja dulu. Pikiran buntu, padahal ada ide nulis soal kebangsaan.