Do not expect focus in this blog. It swings from one side to another. It's only about my thoughts.
Monday, October 03, 2011
Arya Putra Mahendra, 26 Agustus 2011
Dalam Bahasa Sansekerta, “Arya” berarti budi pekerti yang luhur, mencintai dan menjalani perintah Tuhan, serta selalu berpihak pada kebenaran. Kami memberimu nama Arya, agar sepanjang hidupmu, engkau selalu menjaga budi pekertimu, cinta dan patuh pada Tuhan, serta berpihak pada kebenaran.
Mengucap syukurlah pada Tuhan, anakku, karena sampai hari ini, Tuhan memberikan orang tua yang mencintaimu, kakak dan adik yang merindukanmu, saudara-saudara yang memperhatikanmu, dan teman-teman yang menyenangkan hatimu.
Sepuluh tahun sudah, Tuhan menyertaimu, memberimu hidup yang memberimu begitu banyak pengalaman. Bapak dan Ibu berharap dan memohon kepada Tuhan, agar kau dapat terus diberkati Tuhan, menjadi anak yang terus tumbuh menjadi anak yang mencintai Tuhan, mencintai kehidupan, dan mencintai keluarga.
Selamat ulang tahun ke-10 anakku, kiranya berkat dan perlindungan Tuhan melingkupimu senantiasa.
Dengan cinta,
Bapak & Ibu
Nindita Putri Padmana
Nindita, namamu kami ambil dari bahasa Sansekerta. Nindita itu berarti tak bercela, utama, mulia. Padmana, atau padma, dalam bahasa Sansekerta adalah bunga teratai. Bunga cantik yang tumbuh di air, yang karena kecantikannya banyak ditanam di taman yang indah.
Dalam namamu, terkandung harapan Bapak dan Ibu, agar kau jadi anak yang mulia dan cantik, baik dalam pikiran, tutur kata, maupun perbuatan. Dalam namamu, terkandung harapan Bapak dan Ibu agar dalam hidupmu, engkau mengutamakan kemuliaan dan mengupayakan kesempurnaan.
Dalam hidupmu, upayakanlah dengan sepenuh upayamu untuk menerapkan hal-hal baik yang terkandung dalam namamu, ya Nak... Lakukan itu sebagai ungkapan syukur pada Tuhan, yang telah menganugerahkan hidup kepadamu.
Selamat ulang Tahun Nak, Bapak dan Ibu selalu mengasihimu.
Bandung, 01 Oktober 2011
Saturday, November 13, 2010
Saturday, September 25, 2010
Time Flies!
Di akhir cerita, Mr. Big O meninggalkan 'kesempurnaan' yang diperolehnya dengan susah payah itu, dan berkesimpulan bahwa dia sempurna dalam ketidaksempurnaannya.
Bila merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat, ada baiknya untuk STOP & THINK. Keluarkan alat navigasi, dan cek lagi, apakah kita menuju ke arah yang memang hendak kita tuju. Kalau ternyata tidak, buru-buru tetapkan arah yang sesuai dengan tujuan. Bila tidak, maka pada akhirnya akan sampai pada tujuan, tapi tidak merasa tujuannya tercapai.
Friday, August 13, 2010
Moving Fast
Ndak terasa, udah pertengahan 2010. Time flies, they said....
Habis kena Demam Berdarah. Enam hari di RS. Sentosa, Bandung. Enam hari yang membosankan dan mengingatkanku tentang betapa pentingnya sehat. Betapa fundamentalnya kesehatan dalam arsitektur kehidupan manusia.
Banyak perhatian, dukungan, dan bantuan. Untuk semuanya itu: terima kasih banyak.
Masuk lagi ke dunia kerja. TMIS, HR Excellence Award, TIF, TPMS, blueprints, and many more.
Dinikmati, dilewati satu demi satu, dengan persisten dan konsisten.
Thursday, January 14, 2010
Just a Single Line Entry
Sebaliknya, bila sepeninggalan sang leader, tim kemudian berantakan, best practices yang sudah ada hilang entah kemana, pencapaian tim merosot, maka bisa jadi, leader itu gagal dalam menyelesaikan PR-nya.
Maka yang terbaik adalah memanfaatkan teori situational leadership dengan sebaik-baiknya. Bergeser secara cerdas dari kutub direktif ke kutub fasilitatif, sehingga tim punya kesempatan untuk berbuat salah, mengambil resiko yang terukur, dan mendorong tim untuk menabrak keterbatasan kemampuan mereka.
Tuesday, January 05, 2010
Entering 2010
Friday, September 11, 2009
A Trip with TPR
Wednesday, October 22, 2008
Gusti Allah Ora Ndeso (Emha Ainun Nadjib)
Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.
"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.
Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.
Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.
Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
Pursuing Dreams Bigger than Ourselves
Hingga ke jenjang aktualisasi dirinya yang sudah cukup tinggipun, nampak bahwa TPR masih belajar. Mengikuti pola pikir dan filosofinya sejak 1995, terlihat bahwa beliau masih terus menangkap hal baru dalam pengalaman hidupnya. Ini tercermin dari buku “Triputra Values - Pursuing Dreams Bigger than Ourselves” yang diluncurkan bersamaan dengan ulang tahun Triputra ke-10.
Mengenai people misalnya, dulu beliau tegaskan 2 hal terpenting: character & competence. Sekarang beliau tambah 1 lagi: drive. Semoga bukan karena banyak leader yang dirasa kurang drive-nya.
Walaupun mungkin benar, buktinya, salah satu tema dalam President Message tahun 2008 adalah Operational Excellence. Tahun 2009, muncul tema “Rapih, Rapih, Rapih”. Bukankah salah satu esensi Operational Excellence adalah kerapihan bisnis? Mungkin beliau belum terlalu puas dengan kerapihan manajemen dalam perusahaan2 miliknya.
Kalimat berikut versiku sendiri mengenai pentingnya drive, “Seberapa bagus hasil kerjamu? Jawabannya secara kualitatif selalu seperti ini: tergantung 3 hal: passion, konsistensi, dan pemahaman serta keyakinanmu terhadap tujuan dan bentuk akhir dari hasil kerjamu itu.
Begitu banyak bukti menunjukkan, bahwa kualitas hasil kerja yang buruk, tidak selalu berakar pada ketidakmampuan secara teknis. Ketiga hal tersebut di atas, dalam intensitas yang cukup, akan mendobrak berbagai keterbatasan teknis. Yang sulit jadi mudah, yang berat jadi ringan, yang jauh jadi dekat.
Passion itu kunci mesinmu. Dia menyalakan kemampuan kita.
Konsistensi itu bahan bakar yang akan memampukan kita mencapai tujuan, sejauh apapun.
Pemahaman dan keyakinanmu terhadap tujuan dan bentuk akhir itu GPS, yang akan selalu memandu kita pada arah yang telah ditetapkan.
Terkait dengan karakter seorang leader, ada statement yang menarik dari TPR, “Leader tidak melakukan sesuatu for his/her own glory. Leader melakukan sesuatu for their team’s glory.” Tambahnya, “Seharusnya piramidanya dibalik, dan leader berada di bagian paling bawah piramida.” Mungkin ini bahasa teorinya adalah Servant Leadership (kepemimpinan yang melayani).
Social concern yang besar, tersirat juga pada pernyataannya mengenai bagaimana leader harus bersikap menghadapi anak buah yang kurang kompeten. “Leader yang baik tidak meninggalkan anak buahnya. Leader memberikan kesempatan, memperbaiki, dan mendorong anak buahnya mencapai tujuan.” Beliau membandingkannya dengan model manajemen Barat, yang bahkan memiliki sistem yang ‘secara otomatis’ membuang orang yang tidak perform.
Sebaliknya, mengenai integritas, beliau berkata, “Untuk tindakan yang bertujuan memperkaya diri sendiri, kita tidak perlu memberikan toleransi.” Ketegasan posisinya dalam hal integritas, sangat nyata dan nampak sekali bahwa bagi beliau, hal ini sangat penting dan not negotiable.
Mengenai good corporate governance, beliau menyatakan, “100% atau tidak sama sekali. Kita akan dikenang sebagai orang yang bersih, atau tidak bersih.” Beliau berpendapat bahwa bersih dan tidak bersih adalah sesuatu yang absolut, tidak bersifat berjenjang. Bahwa secara teknis GCG dilaksanakan secara gradual, yes, karena seringkali GCG terkait dengan compliance terhadap peraturan dan menimbulkan efek finansial.
Yang juga menarik adalah motif yang mendasari TPR untuk tetap berkarya setelah selesai di Astra. “Saya akan terus berkarya sampai tidak ada masyarakat Indonesia yang miskin.” Motif yang sudah far beyond economical motives.
Bersyukur punya owner yang memiliki motif pribadi seperti itu. Setidaknya, motif tersebut membuat keputusan yang dibuat cenderung bersifat jangka panjang, mementingkan proses, dan tidak semata-mata mengejar short result yang kadang membuat orang bersikap pragmatis.
Mengenai values, dengan sangat jelas beliau menyatakan bahwa tanggung jawab value building ada di masing-masing business leader. Kalau business leader ‘paranoid’ soal value, dengan cepat value dapat terbentuk. Values dinyatakannya sebagai elemen yang memberikan guideline dalam pencapaian target, a guiding principles. Leaders can make a dramatic changes. Satu orang cukup, untuk membuat perubahan yang luar biasa. Dari situ nampak adanya tuntutan yang luar biasa dari TPR terhadap jajaran leadernya.
Satu statement yang menurutku impresif: angka itu hanya scorecard. Saat kebanyakan pengusaha memandang angka sebagai tujuan akhir, beliau menilai angka sebagai semacam rapor atas excellence kita. Dan itu bukan hanya di level kata-kata. Cukup banyak bukti di masa lalu, yang membenarkan keyakinan beliau tersebut. Betapa beliau mau rugi secara angka, sejauh beliau masih melihat adanya kesungguhan, konsistensi, dan kegigihan dari sebuah organisasi.
Balik lagi, sungguh beruntung punya owner dengan kualitas seperti beliau. Ibaratnya, semua sudah disiapkan, tinggal kita teruskan. Tidak usah susah payah menyamakan hal-hal yang fundamental, yang bisa makan waktu lama dan bahkan bisa membuat chaos dan meruntuhkan organisasi.
Jadi ingat tag line-nya A-Mild. Jadi tua itu pasti, tapi jadi dewasa, itu pilihan. Semoga Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada kita semua, agar kita menjadi tua dan dewasa.
Semoga Tuhan memberkati Pak TPR, agar beliau diberi kesehatan dan umur yang panjang, sehingga dapat terus mengabdi buat bangsa dan menjadi mentor bagi kita semua.
Tuesday, September 16, 2008
Mau vs. Mampu
Friday, August 29, 2008
Intinya gini......
Sunday, January 13, 2008
Pak Harto Sakit
Friday, February 23, 2007
Mengenai Integritas
To me, integritas itu sederhana: kualitas diri yang dimiliki, yang membuat orang tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan, meskipun ada kesempatan untuk melakukannya. Integritas tidak langsung berhubungan dengan aturan formal. Integritas adalah kekuatan hati nurani, kekuatan moral & etika, yang menghalangi kita untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, moralitas, maupun etika - dalam begitu banyak peluang yang mungkin muncul sepanjang kehidupan kita.
Aturan formal, kemudian muncul untuk memberikan garis yang lebih tegas antara yang boleh dengan yang tidak boleh. Tapi ternyata aturan itu tidak cukup, karena tidak semua aturan dapat diikuti oleh petunjuk teknis dan sistem monitoring. Kalau integritas dijalankan hanya dengan mengacu pada aturan, maka orang tidak akan merasa bersalah dan melanggar apa-apa, saat melakukan sesuatu yang tidak dilarang oleh aturan, meskipun jelas-jelas melanggar hati nurani, moralitas, ataupun etika.
Dan kemudian integritas dilihat sebagai sesuatu yang lebih kecil, lebih sempit, dan sangat terkait dengan aturan, dan tidak terkait dengan moralitas, hati nurani, ataupun etika. Sangat mirip dengan ilustrasi iklannya A-Mild yang cewek pake Honda Jazz ngambil U-turn padahal ada rambu.
Ngeri juga membayangkan betapa banyaknya dan detilnya aturan yang harus ada kalau integritas dimaknai sebagai sesuatu yang murni berdasarkan aturan..... Padahal, integrity is only a matter of how true are you to yourself.
Thursday, February 15, 2007
Tujuan Bangsa
Berkali2 di reschedule, karena kesibukan beliau - it's OK, sepenuhnya memahami kepentingan dan kesibukan beliau.
Akhirnya bisa ketemu. It tooks only 5-7 menit, tapi apa yang aku lihat benar2 bikin prihatin. Mungkin kalo para founder of this nation membayangkan yang ginian, mereka akan memilih untuk tidak buru-buru memerdekakan bangsa ini, dan memilih untuk lebih dulu membereskan moral dan cara pikir bangsa. Membiarkan bangsa lain yang lebih matang dan beradab mengajar dan melatih moral dan cara pikir bangsa - seperti yang dilakukan Inggris terhadap Hongkong - misalnya.
Pragmatis? Tidak nasionalis? Biarin aja, karena rasanya merdeka itu bisa jadi tidak menjadi syarat penting bangsa, pada saat bangsa itu belum memiliki moral dan cara pikir yang mendukung tercapainya tujuan kemerdekaan itu sendiri. Jauh lebih baik, daripada merdeka tapi kemudian berputar2 dalam lingkaran setan masalah yang disebabkan moral dan cara pikir.
I might be oversimplify, I might be exaggerating things.
Bagaimana seorang petinggi daerah, tanpa tedeng aling-aling, tanpa moral, mengijinkan dirinya untuk 'dibeli' oleh kekuatan ekonomi dan kepentingan bisnis. Ndak tau, ada berapa persen petinggi daerah yang seperti ini. Kalaupun cuma satu, sudah cukup untuk mengganggu arah pencapaian tujuan bangsa.
Motifnya adalah 'pengekalan kekuasaan'. Supaya kekuasaan beliau bisa 'kekal', beliau harus selalu memastikan bahwa orang2 kunci di sekelilingnya very happy. Untuk memastikan agar orang2 kunci di sekelilingnya very happy, beliau harus memberikan lebih dari apa yang sudah mereka terima dari negara. Begitu terus, dari atas sampai ke bawah.
Andai waktu bisa ditarik mundur,
Andai aku bisa ketemu Bung Karno dan Bung Hatta (sebelum bangsa ini merdeka),
Aku mau bilang ke mereka gini,
"Bung, dari apa yang saya liat di masa depan
setelah bangsa ini merdeka,
lebih baik Bung buka tender untuk beberapa negara besar,
yang memenuhi syarat untuk menjadi penjajah
yang mampu mengembangkan moral dan cara pikir bangsa yang dijajahnya.
Bung berikan 'lah kepada pemenangnya konsesi untuk menjajah,
Bung berikan dulu 'lah kesempatan kepada pemenangnya, untuk membenahi moral dan cara pikir bangsa ini....
Nah, nanti kalo Bung liat bangsa ini sudah lebih bermoral dan dewasa cara pikirnya,
Bung cabut deh konsesinya..... dan Bung merdekakan bangsa ini.
Saya yakin Bung, hasilnya akan jauh lebih baik
daripada yang saya lihat dari masa depan.
Karena ternyata, moral dan cara pikir sebuah negara -
itulah yang menentukan kemuliaannya.
Friday, April 28, 2006
Balada Wakidjan
BALADA WAKIDJAN
Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, "Not a play! Not a play!" Nadine bengong. "Not a play?"
"Yes. Not a play. Bukan main." Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. "Bukan main itu bukan not a play, Djan." "Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah periksa di kamus kok)"
Lalu berpaling ke Nadine. "Lady, let's corner (Mojok yuk). But don't think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a meal together." "Ngaco kamu, Djan," Tukidjo tambah gemes. "Don't be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch.?" Nadine cuman senyum kecil. "I would love to, but ..." "Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)" sambut Wakidjan ramah.
"Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok)." Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. "Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?"
Tukidjo cari kalimat penutup. "Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button." (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).
Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, "His name is also effort." (Namanya juga usaha)
Thursday, February 16, 2006
Big Fish? Small Fish?
Yang kedua, biasanya mengunggulkan konsisten income, keamanan kerja, dan financial planning untuk bisa 'berkompetisi' dengan aliran pertama. Jargon utamanya yang sebaliknya, "small fish in a big pond is more secure" daripada "big fish in a small pond".
Herannya, nggak ada yang nulis mengenai fact bahwa kedua aliran ini sebenarnya bisa dipilih semua. Bahwa bisa saja berperan jadi big fish dan small fish dalam waktu yang bersamaan. Faktanya banyak sekali yang seperti itu. Begitu usia menginjak mid-30, rasanya 70-80% dari populasi aliran kedua sudah mulai punya small pond masing-masing, tapi tetap juga mempertahankan big pond-nya.
Personally, rasanya lebih setuju dengan aliran ketiga itu. Bisa kok. Sudah terbukti. Perlu energi agak lebih, perlu atur waktu lebih pinter. Untungnya, ya sederhana saja, keuntungan kedua aliran digabung jadi satu. Kalaupun kemudian merasa pengin jadi big fish, ya go ahead. Kalaupun kemudian merasa jadi small fish sudah cukup, ya sudah be a good and productive small fish.
Gampang kan? Ayo, bikin buku aliran ketiga itu - semoga laku!
Big Fish? Small Fish?
Yang kedua, biasanya mengunggulkan konsisten income, keamanan kerja, dan financial planning untuk bisa 'berkompetisi' dengan aliran pertama. Jargon utamanya yang sebaliknya, "small fish in a big pond is more secure" daripada "big fish in a small pond".
Herannya, nggak ada yang nulis mengenai fact bahwa kedua aliran ini sebenarnya bisa dipilih semua. Bahwa bisa saja berperan jadi big fish dan small fish dalam waktu yang bersamaan. Faktanya banyak sekali yang seperti itu. Begitu usia menginjak mid-30, rasanya 70-80% dari populasi aliran kedua sudah mulai punya small pond masing-masing, tapi tetap juga mempertahankan big pond-nya.
Personally, rasanya lebih setuju dengan aliran ketiga itu. Bisa kok. Sudah terbukti. Perlu energi agak lebih, perlu atur waktu lebih pinter. Untungnya, ya sederhana saja, keuntungan kedua aliran digabung jadi satu. Kalaupun kemudian merasa pengin jadi big fish, ya go ahead. Kalaupun kemudian merasa jadi small fish sudah cukup, ya sudah be a good and productive small fish.
Gampang kan? Ayo, bikin buku aliran ketiga itu - semoga laku!
Monday, November 28, 2005
Hati Tenang, Menulis Jarang
Terakhir nulis disini bulan Januari 2005. Sekarang udah akhir November. Udah hampir 1 tahun.
So many things happened. Good things - thanks to God. Semoga 'alert' dalam diri selalu ada, nggak terlena dengan equilibrium yang sekarang terasa.
Kenapa ya, kalo hatiku tenang, tulisanku otomatis menjarang. Secara psikologis, mungkin karena hati tenang, nggak mikir banyak tentang hidup, nggak sedang struggling inside. Sementara pas hati gundah, menulis jadi cara untuk meringankan masalah - bahkan kadang memecahkan masalah.
Secara fisiologis, mungkin karena tidak terlalu banyak waktu sendiri, jadi lebih sering hang-out sama keluarga, bicara, berpikir, memecahkan masalah di lingkaran itu.
Gitu aja dulu. Pikiran buntu, padahal ada ide nulis soal kebangsaan.









