Wednesday, October 22, 2008

Gusti Allah Ora Ndeso (Emha Ainun Nadjib)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.

"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.

Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Pursuing Dreams Bigger than Ourselves

Hingga ke jenjang aktualisasi dirinya yang sudah cukup tinggipun, nampak bahwa TPR masih belajar. Mengikuti pola pikir dan filosofinya sejak 1995, terlihat bahwa beliau masih terus menangkap hal baru dalam pengalaman hidupnya. Ini tercermin dari buku “Triputra Values - Pursuing Dreams Bigger than Ourselves” yang diluncurkan bersamaan dengan ulang tahun Triputra ke-10.


Mengenai people misalnya, dulu beliau tegaskan 2 hal terpenting: character & competence. Sekarang beliau tambah 1 lagi: drive. Semoga bukan karena banyak leader yang dirasa kurang drive-nya. 


Walaupun mungkin benar, buktinya, salah satu tema dalam President Message tahun 2008 adalah Operational Excellence. Tahun 2009, muncul tema “Rapih, Rapih, Rapih”. Bukankah salah satu esensi Operational Excellence adalah kerapihan bisnis? Mungkin beliau belum terlalu puas dengan kerapihan manajemen dalam perusahaan2 miliknya.


Kalimat berikut versiku sendiri mengenai pentingnya drive, “Seberapa bagus hasil kerjamu? Jawabannya secara kualitatif selalu seperti ini: tergantung 3 hal: passion, konsistensi, dan pemahaman serta keyakinanmu terhadap tujuan dan bentuk akhir dari hasil kerjamu itu.


Begitu banyak bukti menunjukkan, bahwa kualitas hasil kerja yang buruk, tidak selalu berakar pada ketidakmampuan secara teknis. Ketiga hal tersebut di atas, dalam intensitas yang cukup, akan mendobrak berbagai keterbatasan teknis. Yang sulit jadi mudah, yang berat jadi ringan, yang jauh jadi dekat.


Passion itu kunci mesinmu. Dia menyalakan kemampuan kita. 


Konsistensi itu bahan bakar yang akan memampukan kita mencapai tujuan, sejauh apapun. 


Pemahaman dan keyakinanmu terhadap tujuan dan bentuk akhir itu GPS, yang akan selalu memandu kita pada arah yang telah ditetapkan.


Terkait dengan karakter seorang leader, ada statement yang menarik dari TPR, “Leader tidak melakukan sesuatu for his/her own glory. Leader melakukan sesuatu for their team’s glory.” Tambahnya, “Seharusnya piramidanya dibalik, dan leader berada di bagian paling bawah piramida.” Mungkin ini bahasa teorinya adalah Servant Leadership (kepemimpinan yang melayani). 


Social concern yang besar, tersirat juga pada pernyataannya mengenai bagaimana leader harus bersikap menghadapi anak buah yang kurang kompeten. “Leader yang baik tidak meninggalkan anak buahnya. Leader memberikan kesempatan, memperbaiki, dan mendorong anak buahnya mencapai tujuan.” Beliau membandingkannya dengan model manajemen Barat, yang bahkan memiliki sistem yang ‘secara otomatis’ membuang orang yang tidak perform. 


Sebaliknya, mengenai integritas, beliau berkata, “Untuk tindakan yang bertujuan memperkaya diri sendiri, kita tidak perlu memberikan toleransi.” Ketegasan posisinya dalam hal integritas, sangat nyata dan nampak sekali bahwa bagi beliau, hal ini sangat penting dan not negotiable. 


Mengenai good corporate governance, beliau menyatakan, “100% atau tidak sama sekali. Kita akan dikenang sebagai orang yang bersih, atau tidak bersih.” Beliau berpendapat bahwa bersih dan tidak bersih adalah sesuatu yang absolut, tidak bersifat berjenjang. Bahwa secara teknis GCG dilaksanakan secara gradual, yes, karena seringkali GCG terkait dengan compliance terhadap peraturan dan menimbulkan efek finansial. 


Yang juga menarik adalah motif yang mendasari TPR untuk tetap berkarya setelah selesai di Astra. “Saya akan terus berkarya sampai tidak ada masyarakat Indonesia yang miskin.” Motif yang sudah far beyond economical motives. 


Bersyukur punya owner yang memiliki motif pribadi seperti itu. Setidaknya, motif tersebut membuat keputusan yang dibuat cenderung bersifat jangka panjang, mementingkan proses, dan tidak semata-mata mengejar short result yang kadang membuat orang bersikap pragmatis. 


Mengenai values, dengan sangat jelas beliau menyatakan bahwa tanggung jawab value building ada di masing-masing business leader. Kalau business leader ‘paranoid’ soal value, dengan cepat value dapat terbentuk. Values dinyatakannya sebagai elemen yang memberikan guideline dalam pencapaian target, a guiding principles. Leaders can make a dramatic changes. Satu orang cukup, untuk membuat perubahan yang luar biasa. Dari situ nampak adanya tuntutan yang luar biasa dari TPR terhadap jajaran leadernya. 


Satu statement yang menurutku impresif: angka itu hanya scorecard. Saat kebanyakan pengusaha memandang angka sebagai tujuan akhir, beliau menilai angka sebagai semacam rapor atas excellence kita. Dan itu bukan hanya di level kata-kata. Cukup banyak bukti di masa lalu, yang membenarkan keyakinan beliau tersebut. Betapa beliau mau rugi secara angka, sejauh beliau masih melihat adanya kesungguhan, konsistensi, dan kegigihan dari sebuah organisasi. 


Balik lagi, sungguh beruntung punya owner dengan kualitas seperti beliau. Ibaratnya, semua sudah disiapkan, tinggal kita teruskan. Tidak usah susah payah menyamakan hal-hal yang fundamental, yang bisa makan waktu lama dan bahkan bisa membuat chaos dan meruntuhkan organisasi.


Jadi ingat tag line-nya A-Mild. Jadi tua itu pasti, tapi jadi dewasa, itu pilihan. Semoga Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada kita semua, agar kita menjadi tua dan dewasa. 


Semoga Tuhan memberkati Pak TPR, agar beliau diberi kesehatan dan umur yang panjang, sehingga dapat terus mengabdi buat bangsa dan menjadi mentor bagi kita semua. 




 






Tuesday, September 16, 2008

Mau vs. Mampu

Ilustrasinya gini, ada temen kantor yang impressed with my presentation about Macbook, dan akhirnya memutuskan beli. 

Dicoba se-klik - dua-klik, sampailah dia pada kesimpulan bahwa dia tidak bisa pakai Macbook itu. Akhir cerita, itu Macbook dijual.... :-), sebelum sempat dipakai. 

Itu contoh masalah mau-nggak mau. Aku kok ragu, kalau ada orang yang berpendapat bahwa belajar OS baru itu sulit. Itu mind-set. Kalau mind-set bilang nggak bisa, ya nggak bisa jadinya. Kalau mind-set bilang bisa, yang bisalah jadinya.

Mungkin nggak semudah itu dalam kenyataan, tapi 'will power' memang ampuh. Dia bisa turning impossibilities into possibilities. Dan yang lebih luar biasa, pilihannya selalu dikembalikan ke kita. Mau dinyalain, tinggal nyalain. Mau dimatiin, tinggal dimatiin. 

Well, thanks to our Mighty Lord, yang memberikan otoritas untuk memilih itu. Bayangkan kalau mind set seperti itu bukan jadi pilihan buat kita. Betapa suramnya hidup ini. Ngapain hidup, tepatnya.

Satu karakter yang harus menyertai 'can do spirit': berani ambil resiko. Kalau mau, ya harus usaha. Kalau nggak mau usaha, ya jangan mau. Other words: banyak mau, banyak resiko. Tinggal diitung-itung aja, layak atau nggak.

Nyambung sebenarnya, ke 1 karakter lagi: open mindedness. Orang yang punya karakter 'can do', biasanya lebih open minded daripada yang punya karakter 'can not do'. Jadi tiga serangkainya adalah can do spirit, risk taking, dan open minded. Ibaratnya 3 in 1 lah..... 

  
 

Friday, August 29, 2008

Intinya gini......

Bagaimanapun, yang namanya hidup harus balans. Macem2 bentuk balans-nya. Bisa antara kerja sama keluarga, bisa antara mikir ke luar diri dengan ke dalam diri. Bisa juga antara memberi dan menerima. 

Khususnya untuk balans yang terakhir, kalau memberi terus, tapi nggak pernah menerima, akhirnya kering. Ibaratnya mata air, harus rutin cek lingkungan supaya mata air terjaga. Kalau nggak gitu, ya lama-lama kering itu mata air... 

Bahaya juga sih, kalau memberi terus, kemudian merasa cukup, dan kemudian lupa bahwa kita juga perlu diberi. Ini bukan mengenai uang lho ya.... :-) Lupa bahwa kita perlu diberi, termasuk lupa bahwa orang musti recharge, musti terus tumbuh, terus mendengar, terus rendah hati, terus melihat dan mengamati. 

Musti bersyukur juga sih, atas beberapa hal yang terjadi belakangan ini. Jadi sadar lagi, bahwa orang bisa aja mati tanpa harus benar2 mati secara medis. Kematian non medis ini triggernya adalah kurang balans-nya hidup, I guess. 

Mungkin ini yang harus dilakukan: genggam erat lagi pegangan hidup, urai - what is your first things, pastikan itu kokoh, jalani hidup dengan alert in mind bahwa semua perlu balans. 






Sunday, January 13, 2008

Pak Harto Sakit

Duduk di pinggir kolam Hotel Trio, Bandung. Ngawasin anak-anak berenang sambil browsing, berbekal Macbook & modem 3G-nya Indosat (Huawei E220).

Udah beberapa hari Pak Harto sakit. Sakitnya menyita perhatian Indonesia, Asia, dan dunia. CNN-pun secara khusus memonitor perkembangannya. 

Rasanya perhatian ini lebih terpusat pada pertanyaan dan wacana mengenai status hukum beliau dalm kondisi seperti ini, dan apabila Tuhan ternyata berencana memanggilnya. 

Ada yang menuntut agar beliau segera diproses secara hukum dan ditetapkan statusnya sekarang. Ada yang minta beliau dimaafkan dari segala 'dosanya'. 

Rasanya kok gak pantas ya, membahas masalah itu dalam situasi seperti ini. Barusan dapat info dari detik.com, kesehatan beliau makin memburuk. Dari bahasa press release dokter2nya, kayaknya sih udah full pakai life-support. Tinggal diputuskan oleh keluarga, mau dipakai terus life-supportnya, atau dicabut. 

Dalam bahasa manajemen, sering disebut kalimat, "Jangan mudah lupa." Dalam konteks manajemen, itu lebih berarti jangan lupa pada penyebab ketidakberhasilan, sehingga lain kali tidak gagal karena penyebab yang sama. Lebih pada repository kegagalan yang dicatat bukan untuk mengingat-ingat kesalahan, tapi untuk memastikan tidak terjadi kesalahan yang sama di depan nanti. 

Aku kok cenderung memaafkan Pak Harto. Dengan kondisinya saat ini, apa yang bisa dilakukan pada beliau? Menyeretnya ke pengadilan? Memasukkannya ke penjara? Apa pantas? 

Tidak juga berarti semuanya dimaafkan. Masih begitu banyak kroni-nya yang secara medis dan mental waras dan dapat mempertanggungjawabkan semua kesalahannya. Fokus saja ke situ.

Waduh, hujan..... nanti disambung - daripada Macbook rusak.... :-)  

Friday, February 23, 2007

Mengenai Integritas

Integritas.... kata abstrak yang sering membuat orang berdebat mengenai definisi. Kata ini sering juga membuat orang tergelincir dan jatuh.

To me, integritas itu sederhana: kualitas diri yang dimiliki, yang membuat orang tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan, meskipun ada kesempatan untuk melakukannya. Integritas tidak langsung berhubungan dengan aturan formal. Integritas adalah kekuatan hati nurani, kekuatan moral & etika, yang menghalangi kita untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, moralitas, maupun etika - dalam begitu banyak peluang yang mungkin muncul sepanjang kehidupan kita.

Aturan formal, kemudian muncul untuk memberikan garis yang lebih tegas antara yang boleh dengan yang tidak boleh. Tapi ternyata aturan itu tidak cukup, karena tidak semua aturan dapat diikuti oleh petunjuk teknis dan sistem monitoring. Kalau integritas dijalankan hanya dengan mengacu pada aturan, maka orang tidak akan merasa bersalah dan melanggar apa-apa, saat melakukan sesuatu yang tidak dilarang oleh aturan, meskipun jelas-jelas melanggar hati nurani, moralitas, ataupun etika.

Dan kemudian integritas dilihat sebagai sesuatu yang lebih kecil, lebih sempit, dan sangat terkait dengan aturan, dan tidak terkait dengan moralitas, hati nurani, ataupun etika. Sangat mirip dengan ilustrasi iklannya A-Mild yang cewek pake Honda Jazz ngambil U-turn padahal ada rambu.

Ngeri juga membayangkan betapa banyaknya dan detilnya aturan yang harus ada kalau integritas dimaknai sebagai sesuatu yang murni berdasarkan aturan..... Padahal, integrity is only a matter of how true are you to yourself.

Thursday, February 15, 2007

Tujuan Bangsa

Ceritanya gini, kemarin harus bertemu dengan salah satu petinggi salah satu kota di Jabar. Minta doa restu dan dukungan proses pembuatan sentra distribusi baru.


Berkali2 di reschedule, karena kesibukan beliau - it's OK, sepenuhnya memahami kepentingan dan kesibukan beliau.


Akhirnya bisa ketemu.
It tooks only 5-7 menit, tapi apa yang aku lihat benar2 bikin prihatin. Mungkin kalo para founder of this nation membayangkan yang ginian, mereka akan memilih untuk tidak buru-buru memerdekakan bangsa ini, dan memilih untuk lebih dulu membereskan moral dan cara pikir bangsa. Membiarkan bangsa lain yang lebih matang dan beradab mengajar dan melatih moral dan cara pikir bangsa - seperti yang dilakukan Inggris terhadap Hongkong - misalnya.

Pragmatis? Tidak nasionalis? Biarin aja, karena rasanya merdeka itu bisa jadi tidak menjadi syarat penting bangsa, pada saat bangsa itu belum memiliki moral dan cara pikir yang mendukung tercapainya tujuan kemerdekaan itu sendiri. Jauh lebih baik, daripada merdeka tapi kemudian berputar2 dalam lingkaran setan masalah yang disebabkan moral dan cara pikir.

I might be oversimplify, I might be exaggerating things.

Bagaimana seorang petinggi daerah, tanpa tedeng aling-aling, tanpa moral, mengijinkan dirinya untuk 'dibeli' oleh kekuatan ekonomi dan kepentingan bisnis. Ndak tau, ada berapa persen petinggi daerah yang seperti ini. Kalaupun cuma satu, sudah cukup untuk mengganggu arah pencapaian tujuan bangsa.

Motifnya adalah 'pengekalan kekuasaan'. Supaya kekuasaan beliau bisa 'kekal', beliau harus selalu memastikan bahwa orang2 kunci di sekelilingnya
very happy. Untuk memastikan agar orang2 kunci di sekelilingnya very happy, beliau harus memberikan lebih dari apa yang sudah mereka terima dari negara. Begitu terus, dari atas sampai ke bawah.

Andai waktu bisa ditarik mundur,
Andai aku bisa ketemu Bung Karno dan Bung Hatta (sebelum bangsa ini merdeka),
Aku mau bilang ke mereka gini,

"Bung, dari apa yang saya liat di masa depan
setelah bangsa ini merdeka,

lebih baik Bung buka tender untuk beberapa negara besar,
yang memenuhi syarat untuk menjadi penjajah
yang mampu mengembangkan moral dan cara pikir bangsa yang dijajahnya.

Bung berikan 'lah kepada pemenangnya konsesi untuk menjajah,
Bung berikan dulu 'lah kesempatan kepada pemenangnya, untuk membenahi moral dan cara pikir bangsa ini....

Nah, nanti kalo Bung liat bangsa ini sudah lebih bermoral dan dewasa cara pikirnya,
Bung cabut deh konsesinya..... dan Bung merdekakan bangsa ini.

Saya yakin Bung, hasilnya akan jauh lebih baik
daripada yang saya lihat dari masa depan.
Karena ternyata, moral dan cara pikir sebuah negara -
itulah yang menentukan kemuliaannya.







Friday, April 28, 2006

Balada Wakidjan

(dari milis tetangga)

BALADA WAKIDJAN

Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, "Not a play! Not a play!" Nadine bengong. "Not a play?"

"Yes. Not a play. Bukan main." Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. "Bukan main itu bukan not a play, Djan." "Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah periksa di kamus kok)"

Lalu berpaling ke Nadine. "Lady, let's corner (Mojok yuk). But don't think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a meal together." "Ngaco kamu, Djan," Tukidjo tambah gemes. "Don't be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch.?" Nadine cuman senyum kecil. "I would love to, but ..." "Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)" sambut Wakidjan ramah.

"Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok)." Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. "Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?"

Tukidjo cari kalimat penutup. "Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button." (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).

Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, "His name is also effort." (Namanya juga usaha)

Thursday, February 16, 2006

Big Fish? Small Fish?

Semakin banyak buku yang mempertentangkan dan mengadu pendekatan mencari income secara independen atau menjadi karyawan. Yang pertama, biasanya mengunggulkan kebebasan waktu, kemandirian dalam mengambil keputusan. Jargon utamanya menjadi "big fish in a small pond" lebih baik daripada menjadi "small fish in a big pond".

Yang kedua, biasanya mengunggulkan konsisten income, keamanan kerja, dan financial planning untuk bisa 'berkompetisi' dengan aliran pertama. Jargon utamanya yang sebaliknya, "small fish in a big pond is more secure" daripada "big fish in a small pond".

Herannya, nggak ada yang nulis mengenai fact bahwa kedua aliran ini sebenarnya bisa dipilih semua. Bahwa bisa saja berperan jadi big fish dan small fish dalam waktu yang bersamaan. Faktanya banyak sekali yang seperti itu. Begitu usia menginjak mid-30, rasanya 70-80% dari populasi aliran kedua sudah mulai punya small pond masing-masing, tapi tetap juga mempertahankan big pond-nya.

Personally, rasanya lebih setuju dengan aliran ketiga itu. Bisa kok. Sudah terbukti. Perlu energi agak lebih, perlu atur waktu lebih pinter. Untungnya, ya sederhana saja, keuntungan kedua aliran digabung jadi satu. Kalaupun kemudian merasa pengin jadi big fish, ya go ahead. Kalaupun kemudian merasa jadi small fish sudah cukup, ya sudah be a good and productive small fish.

Gampang kan? Ayo, bikin buku aliran ketiga itu - semoga laku!







Big Fish? Small Fish?

Semakin banyak buku yang mempertentangkan dan mengadu pendekatan mencari income secara independen atau menjadi karyawan. Yang pertama, biasanya mengunggulkan kebebasan waktu, kemandirian dalam mengambil keputusan. Jargon utamanya menjadi "big fish in a small pond" lebih baik daripada menjadi "small fish in a big pond".

Yang kedua, biasanya mengunggulkan konsisten income, keamanan kerja, dan financial planning untuk bisa 'berkompetisi' dengan aliran pertama. Jargon utamanya yang sebaliknya, "small fish in a big pond is more secure" daripada "big fish in a small pond".

Herannya, nggak ada yang nulis mengenai fact bahwa kedua aliran ini sebenarnya bisa dipilih semua. Bahwa bisa saja berperan jadi big fish dan small fish dalam waktu yang bersamaan. Faktanya banyak sekali yang seperti itu. Begitu usia menginjak mid-30, rasanya 70-80% dari populasi aliran kedua sudah mulai punya small pond masing-masing, tapi tetap juga mempertahankan big pond-nya.

Personally, rasanya lebih setuju dengan aliran ketiga itu. Bisa kok. Sudah terbukti. Perlu energi agak lebih, perlu atur waktu lebih pinter. Untungnya, ya sederhana saja, keuntungan kedua aliran digabung jadi satu. Kalaupun kemudian merasa pengin jadi big fish, ya go ahead. Kalaupun kemudian merasa jadi small fish sudah cukup, ya sudah be a good and productive small fish.

Gampang kan? Ayo, bikin buku aliran ketiga itu - semoga laku!







Monday, November 28, 2005

Hati Tenang, Menulis Jarang

Hehehe... hati tenang, menulis jarang.

Terakhir nulis disini bulan Januari 2005. Sekarang udah akhir November. Udah hampir 1 tahun.

So many things happened. Good things - thanks to God. Semoga 'alert' dalam diri selalu ada, nggak terlena dengan equilibrium yang sekarang terasa.

Kenapa ya, kalo hatiku tenang, tulisanku otomatis menjarang. Secara psikologis, mungkin karena hati tenang, nggak mikir banyak tentang hidup, nggak sedang struggling inside. Sementara pas hati gundah, menulis jadi cara untuk meringankan masalah - bahkan kadang memecahkan masalah.

Secara fisiologis, mungkin karena tidak terlalu banyak waktu sendiri, jadi lebih sering hang-out sama keluarga, bicara, berpikir, memecahkan masalah di lingkaran itu.

Gitu aja dulu. Pikiran buntu, padahal ada ide nulis soal kebangsaan.



Thursday, January 20, 2005

Importance of Organization Culture

Pada awalnya adalah beberapa individu, dengan warna yang berlainan. Individu itu kemudian bersepakat terhadap komitmen dan target tertentu. Dan terbentuklah organisasi kecil.

Pekerjaan semakin banyak, semakin memusingkan. Akhirnya 4 orang saja tidak cukup. 4 menjadi 10. 10 menjadi 100, 100 menjadi 1000, dan seterusnya.

Mendudukkan 4 orang pada satu meja, saling memahami perbedaan sudut pandang, dan kemudian menyepakati jalan tengah mungkin masih mudah. Tapi pada saat organisasi berkembang dan membelah diri menjadi entitas yang cukup besar, mendudukkan lebih banyak orang, saling memahami sudut pandang, dan menyepakati jalan tengah jadi semakin sulit dilakukan.

Perlu tambahan bumbu: leadership & komunikasi.

Untuk menjelaskan arti pentingnya, kembali dulu ke masalah warna individual. Teori psikologi menyebutkan individual differences. Sesuatu yang sangat penting, harus dijaga, dan justru akan memberikan nilai tambah bagi organisasi. Dari situ kemudian muncul formulasi seperti ini: 1 + 1 > 2. Artinya, justru karena individual differences yang di-sinergi-kan akan muncul energi baru yang jumlah gabungannya lebih besar daripada sekedar penjumlahan dari 2 energi.

Ya, benar. Tapi kemudian yang harus diingat adalah bahwa bicara soal organisasi adalah bicara soal common goal, shared vision, belief mengenai sesuatu yang akan mendorong organisasi menuju tujuannya.

Jadi?

Harus ada kombinasi yang pas antara konsep individual differences dengan color of the organization. Tidak bisa juga individual color itu dibiarkan begitu saja tanpa harmoni atau arah warna tertentu. Untuk mengharmoniskan warna2 itulah leadership dan communication vital. Tanpa kedua hal itu, color of the organization akan kalah terhadap tumbuh dan berkembangnya color of individuals.

Utopis, kalau cuma mengandalkan keyakinan dan kepercayaan, bahwa nantinya individual colors itu akan dengan sendirinya berubah dan selaras dengan organization color. Utopis, sekaligus ironis, dan akan berujung pada rasa frustasi, kerena bukannya semakin selaras, tapi semakin bertentangan dan semakin saling menjauh.

Kalau itu yang sudah terlanjur terjadi, apa bisa dilakukan? Mungkin sampai waktu tertentu, organisasi itu masih bisa berfungsi dan mencapai target2 seperti yang disepakati pada awalnya. Tapi akan terlihat bahwa pencapaian2 itu adalah pencapaian2 yang sifatnya individual. Bukan kelompok, apalagi organisasi. Bisa jadi energi yang terpancar dari organisasi masih terlihat besar, tapi arahnya kemana-mana. Tidak fokus dan terarah.

(bersambung kalo masih minat - mau ngejer pesawat)


Tuesday, January 11, 2005

MIT

This is a summary of a short but meaningful discussion with my chubby friend: Rommy “Rombeng” Rukyanto, yesterday.

When clarity of life is low, when options are hard to choose and risky, you became disoriented. And you need to get through of it.

Start by answer this question, “WHAT IS THE MOST IMPORTANT THINGS (MIT) IN YOUR LIFE?”

Be clear on it. Be sure that you are correct. Be sure that you honest to yourself.

~ Beware if you don’t have clear and correct answer.

If you have found an answer, aim for that. Allocate all of your resources to have that. That is your MIT in your life, so it’s worth all of your life.

Get focus. Life has so many facets. You will be lost if you didn’t get focus.

Sometimes, your most important things demand your sacrifice. You have to let something else go to earn your MIT. It can be something that is now within your reach already, makes you feel warm and comfort, and fulfill your other needs. But again, it’s your MIT, so you have to let them go.

It might take all of your lifetime to find your MIT. But again, it’s your MIT anyway, so it’s worth all of your life. It might demand your extra effort, adjustment, struggling through uncomfortable zone in your life. It might caused confrontation and mind battling. But it’s your MIT.

My MIT is my family. What’s yours?

Monday, January 03, 2005

Kesempatan untuk Hidup

Selamat Tahun Baru 2005!

Terlepas atau terikat dari bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh, Sumut, Srilangka, Thailand, India, dan kawasan Asia Selatan lainnya.

Tetap patut bersyukur akan 1 (lagi) tarikan nafas yang telah Dia berikan, sehingga bisa melewati tahun 2004 dengan selamat, dan diberi kesempatan untuk memasuki tahun 2005.

Kesempatan untuk hidup. Konotasi dari kata "kesempatan" dalam kalimat di depan itu adalah: peluang yang diberikan oleh pihak lain, yang pemanfaatannya terserah kepada kita, namun pemberiannya 100% tergantung pada pihak lain yang memberi itu tadi. Sesuatu yang sifatnya bebas terbatas.

Membayangkan apa yang terjadi pada korban gempa bumi & tsunami, mungkin jadi lebih mudah untuk membayangkan bagaimana kesempatan untuk hidup itu murni tergantung pada Sang Pemberi. Satu tarikan nafas sebelumnya masih segar bugar, tentram dan damai. Tarikan nafas berikutnya sudah tergulung ombak maha dahsyat yang sama sekali diluar kemampuan kita untuk bisa mencegahnya. Dan kemudian ditariklah kesempatan untuk hidup itu dari kita.....

Andai boleh dan bisa memilih, maunya gimana? Tetap hidup, atau.... mati?

Rasanya lebih banyak yang ingin tetap hidup. Padahal hidup dan mati bukan sesuatu yang bisa dipilih. Hidup dan mati adalah dikotomi yang lebih bisa diterima daripada dipilih.

Pertanyaan yang sebenarnya lebih relevan, lebih pantas, dan memang bisa dijawab oleh manusia adalah: bagaimana akan menyikapi hidup?

Bagusnya, hidup menawarkan kebebasan. Kebebasan untuk memaknai. Mau dimaknai sebagai sesuatu yang berat, meresahkan, mengkhawatirkan, mencurigakan, mengerikan, menakutkan, penuh dengan tragedi..... silahkan. Mau dimaknai sebagai sesuatu yang indah, cerah, penuh romantisme, ceria, nyaman..... silahkan. Disini konotasi "bebas" dalam kata "bebas terbatas" itu terjelaskan.

Ingin sekali bisa bilang dan mengimani, bahwa cara memaknai hidup, tidak terkait secara langsung dengan kekayaan, kesuksesan, keberpunyaan, yang berhasil diraih. Sementara "diraih"-pun rasanya terlalu sombong. Seolah2 semuanya itu ada karena keberadaan dan usaha kita semata.

Ingin sekali bisa bilang dan mengimani hal itu.

Selamat Tahun Baru 2005!


Monday, December 06, 2004

Masih Mengenai Dinda

Tadi malem tidur jam 2 pagi, jam 4:30 udah bangun, gak bisa tidur lagi...:( Dinda is all over my mind. Besok rencananya dia diperiksa darah & rontgen. Sorenya konsul ke dokter, baru dari situ ditentukan langkah selanjutnya dan diagnosisnya apa.

Kasihan - apalagi waktu kecil dia sempet kena TBC, walaupun setelah intensive treatment selama 6 bulan udah dinyatakan sembuh. Tapi, kata dokternya waktu itu, cenderung akan ada bekas kayak luka parut di paru-parunya, yang bikin dia lebih rentan penyakit dan lebih sering kena batuk.

Kerjaan juga bikin nggak bisa tidur. Masa kritis udah lewat. Bisa dibilang sukses dalam menjawab pertanyaan: gimana caranya re-entry data (manual, dari hardcopy) sebanyak 70 ribu field selama 4 hari, dan nggak bisa dikerjain siang.

Pertanyaan itu muncul Rabu sore minggu kemaren, dan harus terjawab hari itu juga, karena tanggal 8 Desember, no matter how, semua data udah in place di server. Per hari ini, tinggal 25%-an yang belum dientry. Mustinya malem ini bisa selesai, jadi masih ada buffer Selasa & Rabu malem untuk data correction, if any.

Damage cost, karena prosedur yang nggak in place. Mostly people problem - my problem....:(

I pray and hope for Dinda's health and wellness.

Saturday, December 04, 2004

Dinda Sakit

Belum pernah aku ngalamin, anak sakit pas away kayak gini. Rasanya gimanaaa gitu. Nggak enak aja rasanya. Apalagi, kata Ningsih, dokternya nanti, "Jangan2 kangen sama Bapaknya nih..."

"Cuma" batuk, tapi lama, udah 2 minggu ini... Dan sekarang tambah pake sesak napas. Kalau 2 hari lagi nggak sembuh, musti cek darah & rontgen. Poor Dinda....

Remote family relationship, berikut ubo rampe masalahnya. Proses yang harus dijalani, tapi juga harus diyakini bahwa akan ada ujung akhirnya. Karena, in my opinion, salah satu essence dari being a family is unity. Jadi sadar, ternyata aku betul2 orang Jawa, yang terkenal dengan prinsip "mangan ora mangan waton kumpul"....:-)

My prayer to Dinda, for her health & wellness.

Thursday, November 25, 2004

Gusti Allah Ora Sare

Artikel saduran - dapet dari milis tetangga.

Gusti Allah Ora Sare (ManajemenQolbu.Com)

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini.Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan. Setengah berlari saya mencari tempat berlindung.
Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.
Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik, daripada kehujanan...," begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh. Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya,saya berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja. Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik.
Tampaklah pertunjukan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar.Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggungmulai hilang. Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya.." katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam. "Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja, tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih.
Namun, agaknya saya keliru..."Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat)", begitu katanya. "Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya." Bapak itu melanjutkan, "Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan..."
Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti Allah ora sare". Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya.Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.
Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok. Hmm...saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. "Ya Allah, Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat" Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare..... Gusti Allah Ora Sare.....
Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar. Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.
Aku berdoa agar diberikan kekuatan...Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan...Namun, Allah memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.
Aku berdoa agar diberikan kecerdasan...Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya.
Aku berdoa agar diberikan keberanian...Namun, Allah memberikanku marabahaya agar aku mampu menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang...Namun, Allah memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya.
Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan...Namun, Allah memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.

Tuesday, November 02, 2004

Lover, Wife, Mother, Friend, Business Partner

Semua role itu ada di Ningsih. Hari ini dia ultah. 34. Nggak kerasa.

Selamat ultah, Ning.
Berkat dan penyertaan Tuhan, will always be with you.

Sering kaget, wondering mengenai kapasitas dan dedikasi yang Ningsih miliki. Terhadap keluarga, anak2, pekerjaan, dan hidupnya.

Aku tahu, sungguh ndak gampang untuk menjalani hidup keluarga kami lately, apalagi dengan masa transisi yang sedang terjadi, jarak pandang ke depan yang relatif pendek, dan berbagai hal lain.

Tapi somehow, melihat dan merasakan energinya, membuatku yakin: we will survive. Seperti yang sudah terbukti berkali-kali, sepanjang perjalanan hidup kami.

Terima kasih Ning, atas cintamu, kesabaranmu, persistensimu, komitmenmu, dedikasimu.

Berkati dan sertai dia, Tuhan.



Thursday, October 21, 2004

Sang Pengatur Waktu

Sering merasa kekurangan waktu?

Dulu pernah ada diskusi gebleg tapi menarik:
  1. Semua orang diberi jatah 24 jam sehari. Nggak ada yang kurang, nggak ada yang lebih, even cuma 1 detik.
  2. Hebatnya, ada orang yang bisa mengatur waktu itu sedemikian rupa, sehingga dia bisa memimpin negara, membereskan urusan-urusan maha penting, berharga ratusan bahkan jutaan dolar. Ada juga yang selalu mengeluh kurang waktu, tidak bisa menyelesaikan pekerjaan pada saatnya.
  3. Siapa yang nggak percaya, bahwa Tuhan itu pada saat menciptakan waktu, sudah mempertimbangkan dan mempunyai master plan mengenai bagaimana bumi dan manusia akan menjadi. Artinya, kompleksitas kehidupan masa sekarang, bahkan masa datang, sampai tiba waktunya kiamat, itu sudah diprediksi. Termasuk waktu. Tuhan yakin (dan keyakinan Tuhan itu absolut kan?), bahwa waktu buat manusia akan cukup, serumit apapun hidup dan jamannya.
Lalu kenapa kita sering merasa kekurangan waktu? Apa ada yang mau challenge back ke Tuhan, dan mempertanyakan validitas judgment-Nya mengenai waktu?

Sibuk or not sibuk is just a mind game? Oversimplifikasi ya? Mungkin iya, tapi kalo kenyataannya kejeblos ke masalah kurang waktu, apa lagi coba yang bisa dilakukan supaya bisa solve? Minta waktu? Ke boss or client mungkin bisa, tapi doesn't really solve our problem kan?

Kadang trapped ke situasi dimana manageability kita sangat terbatas, dan yang diperoleh adalah tumpukan pekerjaan yang mungkin 80% diantaranya bukan kita yang set due-datenya, tapi pihak lain, untuk kepentingan lain yang nggak manageable buat kita. Kalo situasinya gitu, terus gimana?

Jadilah Sang Pengatur Waktu. Itu jawaban sederhana, naif, oversimplify things, etc. Tapi rasanya kok nggak sepenuhnya salah. Caranya macem2. Esensinya ada di satu aspek yang 100% manageable buat kita: OUR MIND.

Jadi "sibuk or not sibuk is just a mind game" tidak sepenuhnya non sense.

Wednesday, October 13, 2004

IT oh IT

Semakin terlibat dalam office's ups and downs. Perubahan sudut pandang, dari outsider menjadi insider. Proses itu terjadi lagi. Bedanya banyak. Kalo lihat dari luar, tinggal pake criticism aja. Kalo udah di dalem, musti paham kenapa terjadi, hubungannya gimana dengan aspek lain, kalau diubah impactnya apa, dan gimana caranya.

Typical IT company, night calls, subuh calls, weekend surprises. Pop up problems along the way. Last second changes, perubahan resources, shortage of resources. Dinamis. No matter ada di posisi mana, tapi kalo udah cukup senior, pasti deh, terlibat heavily dalam case-case semacam itu.

Plan yang jangka panjang jadi nomor 2, lebih baik punya kamus/vocab/repository plus guts dan kreativitas untuk bisa solve masalah dengan cepat, cukup akurat. Kalo ternyata salah, perbaiki sambil jalan. Jahit celana sambil jalan - ini pengibaratan yang aku rasakan betul di IT industries. Nggak ada waktu untuk mikir berlama-lama. Kenapa istilahnya ibarat ya? Bukannya iselatan, atau itimur, atau iutara?

Seru juga. Lama2 jadi punya instink untuk gerak cepat, smell problems before occuring. Plannya lebih pas jangka pendek, dan sangat di-drive oleh sales, client needs, project. Komitmen terhadap mobilisasi resources juga gila2an. Jangan harap bisa bikin session in house training, semua orang gitu. Harus ada cara yang lebih kreatif untuk bisa train resources.

Soal rekrut-merekrut juga musti gerak cepat. Cara kayak di manufacturing, bikin annual recruitment plan gitu nggak bisa jalan di IT. Paling bisanya bikin resources forecasting, dari sales plan. Itupun ya tentative. Bisa mengendus kebutuhan resources 2-3 bulan sebelum kejadian sungguh suatu kemewahan. Lebih sering dalam hitungan minggu harus bisa fulfill kebutuhan orang. Kalo nggak bisa, komitmen ke client in danger. Dan karena client adalah raja, udah kebayang dong pressure semua orang terhadap pencapaian target nyari orang itu....

Partisi2 kerjaan tipis. Jump around dari HR, ke Finance, ke Sales, Production, is very frequent. Paling nggak bantu mikir dan cari cara. Kalo ada case urgent, so called management team ngumpul tanpa mikir ini masalah siapa/bagian mana, yang penting solved quickly, with less damage.

Itulah IT. Sejauh yang aku tahu.