Do not expect focus in this blog. It swings from one side to another. It's only about my thoughts.
Sunday, January 13, 2008
Pak Harto Sakit
Friday, February 23, 2007
Mengenai Integritas
To me, integritas itu sederhana: kualitas diri yang dimiliki, yang membuat orang tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan, meskipun ada kesempatan untuk melakukannya. Integritas tidak langsung berhubungan dengan aturan formal. Integritas adalah kekuatan hati nurani, kekuatan moral & etika, yang menghalangi kita untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, moralitas, maupun etika - dalam begitu banyak peluang yang mungkin muncul sepanjang kehidupan kita.
Aturan formal, kemudian muncul untuk memberikan garis yang lebih tegas antara yang boleh dengan yang tidak boleh. Tapi ternyata aturan itu tidak cukup, karena tidak semua aturan dapat diikuti oleh petunjuk teknis dan sistem monitoring. Kalau integritas dijalankan hanya dengan mengacu pada aturan, maka orang tidak akan merasa bersalah dan melanggar apa-apa, saat melakukan sesuatu yang tidak dilarang oleh aturan, meskipun jelas-jelas melanggar hati nurani, moralitas, ataupun etika.
Dan kemudian integritas dilihat sebagai sesuatu yang lebih kecil, lebih sempit, dan sangat terkait dengan aturan, dan tidak terkait dengan moralitas, hati nurani, ataupun etika. Sangat mirip dengan ilustrasi iklannya A-Mild yang cewek pake Honda Jazz ngambil U-turn padahal ada rambu.
Ngeri juga membayangkan betapa banyaknya dan detilnya aturan yang harus ada kalau integritas dimaknai sebagai sesuatu yang murni berdasarkan aturan..... Padahal, integrity is only a matter of how true are you to yourself.
Thursday, February 15, 2007
Tujuan Bangsa
Berkali2 di reschedule, karena kesibukan beliau - it's OK, sepenuhnya memahami kepentingan dan kesibukan beliau.
Akhirnya bisa ketemu. It tooks only 5-7 menit, tapi apa yang aku lihat benar2 bikin prihatin. Mungkin kalo para founder of this nation membayangkan yang ginian, mereka akan memilih untuk tidak buru-buru memerdekakan bangsa ini, dan memilih untuk lebih dulu membereskan moral dan cara pikir bangsa. Membiarkan bangsa lain yang lebih matang dan beradab mengajar dan melatih moral dan cara pikir bangsa - seperti yang dilakukan Inggris terhadap Hongkong - misalnya.
Pragmatis? Tidak nasionalis? Biarin aja, karena rasanya merdeka itu bisa jadi tidak menjadi syarat penting bangsa, pada saat bangsa itu belum memiliki moral dan cara pikir yang mendukung tercapainya tujuan kemerdekaan itu sendiri. Jauh lebih baik, daripada merdeka tapi kemudian berputar2 dalam lingkaran setan masalah yang disebabkan moral dan cara pikir.
I might be oversimplify, I might be exaggerating things.
Bagaimana seorang petinggi daerah, tanpa tedeng aling-aling, tanpa moral, mengijinkan dirinya untuk 'dibeli' oleh kekuatan ekonomi dan kepentingan bisnis. Ndak tau, ada berapa persen petinggi daerah yang seperti ini. Kalaupun cuma satu, sudah cukup untuk mengganggu arah pencapaian tujuan bangsa.
Motifnya adalah 'pengekalan kekuasaan'. Supaya kekuasaan beliau bisa 'kekal', beliau harus selalu memastikan bahwa orang2 kunci di sekelilingnya very happy. Untuk memastikan agar orang2 kunci di sekelilingnya very happy, beliau harus memberikan lebih dari apa yang sudah mereka terima dari negara. Begitu terus, dari atas sampai ke bawah.
Andai waktu bisa ditarik mundur,
Andai aku bisa ketemu Bung Karno dan Bung Hatta (sebelum bangsa ini merdeka),
Aku mau bilang ke mereka gini,
"Bung, dari apa yang saya liat di masa depan
setelah bangsa ini merdeka,
lebih baik Bung buka tender untuk beberapa negara besar,
yang memenuhi syarat untuk menjadi penjajah
yang mampu mengembangkan moral dan cara pikir bangsa yang dijajahnya.
Bung berikan 'lah kepada pemenangnya konsesi untuk menjajah,
Bung berikan dulu 'lah kesempatan kepada pemenangnya, untuk membenahi moral dan cara pikir bangsa ini....
Nah, nanti kalo Bung liat bangsa ini sudah lebih bermoral dan dewasa cara pikirnya,
Bung cabut deh konsesinya..... dan Bung merdekakan bangsa ini.
Saya yakin Bung, hasilnya akan jauh lebih baik
daripada yang saya lihat dari masa depan.
Karena ternyata, moral dan cara pikir sebuah negara -
itulah yang menentukan kemuliaannya.
Friday, April 28, 2006
Balada Wakidjan
BALADA WAKIDJAN
Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, "Not a play! Not a play!" Nadine bengong. "Not a play?"
"Yes. Not a play. Bukan main." Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. "Bukan main itu bukan not a play, Djan." "Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah periksa di kamus kok)"
Lalu berpaling ke Nadine. "Lady, let's corner (Mojok yuk). But don't think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a meal together." "Ngaco kamu, Djan," Tukidjo tambah gemes. "Don't be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch.?" Nadine cuman senyum kecil. "I would love to, but ..." "Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)" sambut Wakidjan ramah.
"Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok)." Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. "Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?"
Tukidjo cari kalimat penutup. "Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button." (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).
Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, "His name is also effort." (Namanya juga usaha)
Thursday, February 16, 2006
Big Fish? Small Fish?
Yang kedua, biasanya mengunggulkan konsisten income, keamanan kerja, dan financial planning untuk bisa 'berkompetisi' dengan aliran pertama. Jargon utamanya yang sebaliknya, "small fish in a big pond is more secure" daripada "big fish in a small pond".
Herannya, nggak ada yang nulis mengenai fact bahwa kedua aliran ini sebenarnya bisa dipilih semua. Bahwa bisa saja berperan jadi big fish dan small fish dalam waktu yang bersamaan. Faktanya banyak sekali yang seperti itu. Begitu usia menginjak mid-30, rasanya 70-80% dari populasi aliran kedua sudah mulai punya small pond masing-masing, tapi tetap juga mempertahankan big pond-nya.
Personally, rasanya lebih setuju dengan aliran ketiga itu. Bisa kok. Sudah terbukti. Perlu energi agak lebih, perlu atur waktu lebih pinter. Untungnya, ya sederhana saja, keuntungan kedua aliran digabung jadi satu. Kalaupun kemudian merasa pengin jadi big fish, ya go ahead. Kalaupun kemudian merasa jadi small fish sudah cukup, ya sudah be a good and productive small fish.
Gampang kan? Ayo, bikin buku aliran ketiga itu - semoga laku!
Big Fish? Small Fish?
Yang kedua, biasanya mengunggulkan konsisten income, keamanan kerja, dan financial planning untuk bisa 'berkompetisi' dengan aliran pertama. Jargon utamanya yang sebaliknya, "small fish in a big pond is more secure" daripada "big fish in a small pond".
Herannya, nggak ada yang nulis mengenai fact bahwa kedua aliran ini sebenarnya bisa dipilih semua. Bahwa bisa saja berperan jadi big fish dan small fish dalam waktu yang bersamaan. Faktanya banyak sekali yang seperti itu. Begitu usia menginjak mid-30, rasanya 70-80% dari populasi aliran kedua sudah mulai punya small pond masing-masing, tapi tetap juga mempertahankan big pond-nya.
Personally, rasanya lebih setuju dengan aliran ketiga itu. Bisa kok. Sudah terbukti. Perlu energi agak lebih, perlu atur waktu lebih pinter. Untungnya, ya sederhana saja, keuntungan kedua aliran digabung jadi satu. Kalaupun kemudian merasa pengin jadi big fish, ya go ahead. Kalaupun kemudian merasa jadi small fish sudah cukup, ya sudah be a good and productive small fish.
Gampang kan? Ayo, bikin buku aliran ketiga itu - semoga laku!
Monday, November 28, 2005
Hati Tenang, Menulis Jarang
Terakhir nulis disini bulan Januari 2005. Sekarang udah akhir November. Udah hampir 1 tahun.
So many things happened. Good things - thanks to God. Semoga 'alert' dalam diri selalu ada, nggak terlena dengan equilibrium yang sekarang terasa.
Kenapa ya, kalo hatiku tenang, tulisanku otomatis menjarang. Secara psikologis, mungkin karena hati tenang, nggak mikir banyak tentang hidup, nggak sedang struggling inside. Sementara pas hati gundah, menulis jadi cara untuk meringankan masalah - bahkan kadang memecahkan masalah.
Secara fisiologis, mungkin karena tidak terlalu banyak waktu sendiri, jadi lebih sering hang-out sama keluarga, bicara, berpikir, memecahkan masalah di lingkaran itu.
Gitu aja dulu. Pikiran buntu, padahal ada ide nulis soal kebangsaan.
Thursday, January 20, 2005
Importance of Organization Culture
Pekerjaan semakin banyak, semakin memusingkan. Akhirnya 4 orang saja tidak cukup. 4 menjadi 10. 10 menjadi 100, 100 menjadi 1000, dan seterusnya.
Mendudukkan 4 orang pada satu meja, saling memahami perbedaan sudut pandang, dan kemudian menyepakati jalan tengah mungkin masih mudah. Tapi pada saat organisasi berkembang dan membelah diri menjadi entitas yang cukup besar, mendudukkan lebih banyak orang, saling memahami sudut pandang, dan menyepakati jalan tengah jadi semakin sulit dilakukan.
Perlu tambahan bumbu: leadership & komunikasi.
Untuk menjelaskan arti pentingnya, kembali dulu ke masalah warna individual. Teori psikologi menyebutkan individual differences. Sesuatu yang sangat penting, harus dijaga, dan justru akan memberikan nilai tambah bagi organisasi. Dari situ kemudian muncul formulasi seperti ini: 1 + 1 > 2. Artinya, justru karena individual differences yang di-sinergi-kan akan muncul energi baru yang jumlah gabungannya lebih besar daripada sekedar penjumlahan dari 2 energi.
Ya, benar. Tapi kemudian yang harus diingat adalah bahwa bicara soal organisasi adalah bicara soal common goal, shared vision, belief mengenai sesuatu yang akan mendorong organisasi menuju tujuannya.
Jadi?
Harus ada kombinasi yang pas antara konsep individual differences dengan color of the organization. Tidak bisa juga individual color itu dibiarkan begitu saja tanpa harmoni atau arah warna tertentu. Untuk mengharmoniskan warna2 itulah leadership dan communication vital. Tanpa kedua hal itu, color of the organization akan kalah terhadap tumbuh dan berkembangnya color of individuals.
Utopis, kalau cuma mengandalkan keyakinan dan kepercayaan, bahwa nantinya individual colors itu akan dengan sendirinya berubah dan selaras dengan organization color. Utopis, sekaligus ironis, dan akan berujung pada rasa frustasi, kerena bukannya semakin selaras, tapi semakin bertentangan dan semakin saling menjauh.
Kalau itu yang sudah terlanjur terjadi, apa bisa dilakukan? Mungkin sampai waktu tertentu, organisasi itu masih bisa berfungsi dan mencapai target2 seperti yang disepakati pada awalnya. Tapi akan terlihat bahwa pencapaian2 itu adalah pencapaian2 yang sifatnya individual. Bukan kelompok, apalagi organisasi. Bisa jadi energi yang terpancar dari organisasi masih terlihat besar, tapi arahnya kemana-mana. Tidak fokus dan terarah.
(bersambung kalo masih minat - mau ngejer pesawat)
Tuesday, January 11, 2005
MIT
Monday, January 03, 2005
Kesempatan untuk Hidup
Terlepas atau terikat dari bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh, Sumut, Srilangka, Thailand, India, dan kawasan Asia Selatan lainnya.
Tetap patut bersyukur akan 1 (lagi) tarikan nafas yang telah Dia berikan, sehingga bisa melewati tahun 2004 dengan selamat, dan diberi kesempatan untuk memasuki tahun 2005.
Kesempatan untuk hidup. Konotasi dari kata "kesempatan" dalam kalimat di depan itu adalah: peluang yang diberikan oleh pihak lain, yang pemanfaatannya terserah kepada kita, namun pemberiannya 100% tergantung pada pihak lain yang memberi itu tadi. Sesuatu yang sifatnya bebas terbatas.
Membayangkan apa yang terjadi pada korban gempa bumi & tsunami, mungkin jadi lebih mudah untuk membayangkan bagaimana kesempatan untuk hidup itu murni tergantung pada Sang Pemberi. Satu tarikan nafas sebelumnya masih segar bugar, tentram dan damai. Tarikan nafas berikutnya sudah tergulung ombak maha dahsyat yang sama sekali diluar kemampuan kita untuk bisa mencegahnya. Dan kemudian ditariklah kesempatan untuk hidup itu dari kita.....
Andai boleh dan bisa memilih, maunya gimana? Tetap hidup, atau.... mati?
Rasanya lebih banyak yang ingin tetap hidup. Padahal hidup dan mati bukan sesuatu yang bisa dipilih. Hidup dan mati adalah dikotomi yang lebih bisa diterima daripada dipilih.
Pertanyaan yang sebenarnya lebih relevan, lebih pantas, dan memang bisa dijawab oleh manusia adalah: bagaimana akan menyikapi hidup?
Bagusnya, hidup menawarkan kebebasan. Kebebasan untuk memaknai. Mau dimaknai sebagai sesuatu yang berat, meresahkan, mengkhawatirkan, mencurigakan, mengerikan, menakutkan, penuh dengan tragedi..... silahkan. Mau dimaknai sebagai sesuatu yang indah, cerah, penuh romantisme, ceria, nyaman..... silahkan. Disini konotasi "bebas" dalam kata "bebas terbatas" itu terjelaskan.
Ingin sekali bisa bilang dan mengimani, bahwa cara memaknai hidup, tidak terkait secara langsung dengan kekayaan, kesuksesan, keberpunyaan, yang berhasil diraih. Sementara "diraih"-pun rasanya terlalu sombong. Seolah2 semuanya itu ada karena keberadaan dan usaha kita semata.
Ingin sekali bisa bilang dan mengimani hal itu.
Selamat Tahun Baru 2005!
Monday, December 06, 2004
Masih Mengenai Dinda
Kasihan - apalagi waktu kecil dia sempet kena TBC, walaupun setelah intensive treatment selama 6 bulan udah dinyatakan sembuh. Tapi, kata dokternya waktu itu, cenderung akan ada bekas kayak luka parut di paru-parunya, yang bikin dia lebih rentan penyakit dan lebih sering kena batuk.
Kerjaan juga bikin nggak bisa tidur. Masa kritis udah lewat. Bisa dibilang sukses dalam menjawab pertanyaan: gimana caranya re-entry data (manual, dari hardcopy) sebanyak 70 ribu field selama 4 hari, dan nggak bisa dikerjain siang.
Pertanyaan itu muncul Rabu sore minggu kemaren, dan harus terjawab hari itu juga, karena tanggal 8 Desember, no matter how, semua data udah in place di server. Per hari ini, tinggal 25%-an yang belum dientry. Mustinya malem ini bisa selesai, jadi masih ada buffer Selasa & Rabu malem untuk data correction, if any.
Damage cost, karena prosedur yang nggak in place. Mostly people problem - my problem....:(
I pray and hope for Dinda's health and wellness.
Saturday, December 04, 2004
Dinda Sakit
"Cuma" batuk, tapi lama, udah 2 minggu ini... Dan sekarang tambah pake sesak napas. Kalau 2 hari lagi nggak sembuh, musti cek darah & rontgen. Poor Dinda....
Remote family relationship, berikut ubo rampe masalahnya. Proses yang harus dijalani, tapi juga harus diyakini bahwa akan ada ujung akhirnya. Karena, in my opinion, salah satu essence dari being a family is unity. Jadi sadar, ternyata aku betul2 orang Jawa, yang terkenal dengan prinsip "mangan ora mangan waton kumpul"....:-)
My prayer to Dinda, for her health & wellness.
Thursday, November 25, 2004
Gusti Allah Ora Sare
Gusti Allah Ora Sare (ManajemenQolbu.Com)
Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini.Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan. Setengah berlari saya mencari tempat berlindung.
Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.
Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik, daripada kehujanan...," begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh. Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya,saya berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja. Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik.
Tampaklah pertunjukan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar.Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggungmulai hilang. Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya.." katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam. "Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja, tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih.
Namun, agaknya saya keliru..."Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat)", begitu katanya. "Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya." Bapak itu melanjutkan, "Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan..."
Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti Allah ora sare". Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya.Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.
Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok. Hmm...saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. "Ya Allah, Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat" Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare..... Gusti Allah Ora Sare.....
Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar. Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.
Aku berdoa agar diberikan kekuatan...Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan...Namun, Allah memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.
Aku berdoa agar diberikan kecerdasan...Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya.
Aku berdoa agar diberikan keberanian...Namun, Allah memberikanku marabahaya agar aku mampu menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang...Namun, Allah memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya.
Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan...Namun, Allah memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.
Tuesday, November 02, 2004
Lover, Wife, Mother, Friend, Business Partner
Selamat ultah, Ning.
Berkat dan penyertaan Tuhan, will always be with you.
Sering kaget, wondering mengenai kapasitas dan dedikasi yang Ningsih miliki. Terhadap keluarga, anak2, pekerjaan, dan hidupnya.
Aku tahu, sungguh ndak gampang untuk menjalani hidup keluarga kami lately, apalagi dengan masa transisi yang sedang terjadi, jarak pandang ke depan yang relatif pendek, dan berbagai hal lain.
Tapi somehow, melihat dan merasakan energinya, membuatku yakin: we will survive. Seperti yang sudah terbukti berkali-kali, sepanjang perjalanan hidup kami.
Terima kasih Ning, atas cintamu, kesabaranmu, persistensimu, komitmenmu, dedikasimu.
Berkati dan sertai dia, Tuhan.
Thursday, October 21, 2004
Sang Pengatur Waktu
Dulu pernah ada diskusi gebleg tapi menarik:
- Semua orang diberi jatah 24 jam sehari. Nggak ada yang kurang, nggak ada yang lebih, even cuma 1 detik.
- Hebatnya, ada orang yang bisa mengatur waktu itu sedemikian rupa, sehingga dia bisa memimpin negara, membereskan urusan-urusan maha penting, berharga ratusan bahkan jutaan dolar. Ada juga yang selalu mengeluh kurang waktu, tidak bisa menyelesaikan pekerjaan pada saatnya.
- Siapa yang nggak percaya, bahwa Tuhan itu pada saat menciptakan waktu, sudah mempertimbangkan dan mempunyai master plan mengenai bagaimana bumi dan manusia akan menjadi. Artinya, kompleksitas kehidupan masa sekarang, bahkan masa datang, sampai tiba waktunya kiamat, itu sudah diprediksi. Termasuk waktu. Tuhan yakin (dan keyakinan Tuhan itu absolut kan?), bahwa waktu buat manusia akan cukup, serumit apapun hidup dan jamannya.
Sibuk or not sibuk is just a mind game? Oversimplifikasi ya? Mungkin iya, tapi kalo kenyataannya kejeblos ke masalah kurang waktu, apa lagi coba yang bisa dilakukan supaya bisa solve? Minta waktu? Ke boss or client mungkin bisa, tapi doesn't really solve our problem kan?
Kadang trapped ke situasi dimana manageability kita sangat terbatas, dan yang diperoleh adalah tumpukan pekerjaan yang mungkin 80% diantaranya bukan kita yang set due-datenya, tapi pihak lain, untuk kepentingan lain yang nggak manageable buat kita. Kalo situasinya gitu, terus gimana?
Jadilah Sang Pengatur Waktu. Itu jawaban sederhana, naif, oversimplify things, etc. Tapi rasanya kok nggak sepenuhnya salah. Caranya macem2. Esensinya ada di satu aspek yang 100% manageable buat kita: OUR MIND.
Jadi "sibuk or not sibuk is just a mind game" tidak sepenuhnya non sense.
Wednesday, October 13, 2004
IT oh IT
Typical IT company, night calls, subuh calls, weekend surprises. Pop up problems along the way. Last second changes, perubahan resources, shortage of resources. Dinamis. No matter ada di posisi mana, tapi kalo udah cukup senior, pasti deh, terlibat heavily dalam case-case semacam itu.
Plan yang jangka panjang jadi nomor 2, lebih baik punya kamus/vocab/repository plus guts dan kreativitas untuk bisa solve masalah dengan cepat, cukup akurat. Kalo ternyata salah, perbaiki sambil jalan. Jahit celana sambil jalan - ini pengibaratan yang aku rasakan betul di IT industries. Nggak ada waktu untuk mikir berlama-lama. Kenapa istilahnya ibarat ya? Bukannya iselatan, atau itimur, atau iutara?
Seru juga. Lama2 jadi punya instink untuk gerak cepat, smell problems before occuring. Plannya lebih pas jangka pendek, dan sangat di-drive oleh sales, client needs, project. Komitmen terhadap mobilisasi resources juga gila2an. Jangan harap bisa bikin session in house training, semua orang gitu. Harus ada cara yang lebih kreatif untuk bisa train resources.
Soal rekrut-merekrut juga musti gerak cepat. Cara kayak di manufacturing, bikin annual recruitment plan gitu nggak bisa jalan di IT. Paling bisanya bikin resources forecasting, dari sales plan. Itupun ya tentative. Bisa mengendus kebutuhan resources 2-3 bulan sebelum kejadian sungguh suatu kemewahan. Lebih sering dalam hitungan minggu harus bisa fulfill kebutuhan orang. Kalo nggak bisa, komitmen ke client in danger. Dan karena client adalah raja, udah kebayang dong pressure semua orang terhadap pencapaian target nyari orang itu....
Partisi2 kerjaan tipis. Jump around dari HR, ke Finance, ke Sales, Production, is very frequent. Paling nggak bantu mikir dan cari cara. Kalo ada case urgent, so called management team ngumpul tanpa mikir ini masalah siapa/bagian mana, yang penting solved quickly, with less damage.
Itulah IT. Sejauh yang aku tahu.
Friday, October 08, 2004
Sense of Music
Setelah ngajarin basic feature kayak gimana nyalain, gimana milih2 sound & rythm, gimana fungsi syncro start, intro, ending, fill in, variation, basic single finger chord (C, F, G) kita kebingungan milih lagu apa yang simpel untuk belajar.
Tadinya kepikir Ibu Kita Kartini....:D Tapi Pak Slametnya nggak sreg. Akhirnya.... aku mainkan lagu campursari yang lagi ngetop: Cucak Rowo-nya Didi Kempot (bener nggak sih?). Langsung cocok.
Aku bikinin notasi & chordnya. Ada rythm yang pas banget untuk lagu itu di KN 6200: Chantik nama rythmnya - bentuk akulturasi dan sensitivitas Technics terhadap beat2 lokal.
There he goes..... pertama dia lancarin melodinya. Lumayan punya sense of music gua rasa. Nggak lama udah agak lancar. Tambah rythm sekarang... belum pake chord. Beat diturunin dulu, biar nggak kedodoran. Setelah lancar, single fingered chord mulai main. C, G, F aja dulu, simpel. Biar gampang: C = jempol, G = jenthik, F = telunjuk.
Udah lumayan lancar. Kadang masih kejar2an sama beat, normal buat orang baru. Habis itu, Ibu Kita Kartini aku tulis juga notasi & chordnya. Pergerakan melodinya lebih lebar dikit daripada Cucak Rowo, jadi bisa nglatih fingering melodi.
Nggak kerasa udah jam 1 malem. Capek, istirahat.
Sense of music.....
Dulu, jaman masih SD, memainkan alat musik adalah menghapal nada dan chord. Jadi inget pas ujian Kesenian di SD, pake recorder nyanyi lagu Kemuning. Sibuk mengingat2 nada apa selanjutnya, instead of memahami keseluruhan lagu dan memainkan bagian demi bagian dalam aliran tema lagu.
Jaman SMP, feeling udah mulai terasah. Dapat hadiah pelajar teladan, terus beli gitar. Harganya 25 ribu, udah plus buku lagu2 yang tipis2 itu. Ada chord gitarnya juga.
Otodidak, beberapa bulan. Explorasi makin dalem sampai memahami logika perbedaan chord di masing2 nada dasar. Bukan ngapalin, tapi paham logika dan perbedaan suaranya. Jadi kalo harus beda nada dasar antara pas latihan sama pentas, no problem, tinggal mindah mindset. Nggak ada matinya jadinya. Penyanyinya mau kemana aja bisa ngikutin. Paling impactnya ke fingering di melodinya.
Amazing, kalo membayangkan bagaimana kita dianugerahi talent untuk itu. Sampai sekarang juga masih nggak bisa menjelaskan, bagaimana proses di otak yang mengatur sense of music. Sense of sound harmony, sense of music flow. Gimana penjelasannya bisa mengantisipasi melodi dan chord berdasarkan pemahaman terhadap pattern lagu, even lagu baru yang belum pernah denger. Bagaimana nada 1 (do), itu bisa 'disikapi' dengan chord C, C7, CM7, F, Fm, Dm7, Gsus tergantung dari alur melodinya.
Ada jawaban teknisnya: semua chord itu mengandung nada do. Tapi nggak terus berarti semua chord itu bakal laras waktu diapply. Feeling dan flavour kita yang main pada akhirnya. Sense of harmony, dan flavouring kita terhadap lagu yang kemudian membuat satu lagu bisa dimainkan dengan banyak interpretasi.
So di hari Jumat yang berbahagia ini, hari dimana nanti malem aku bakal balik ke Bali, I thanks Lord - atas sense of music, yang 'rasanya' ada dalam diriku. Moga2 bisa kumanfaatkan untuk membantu orang lain, menajamkan sense of harmony in every aspect of life.
Thursday, September 30, 2004
Besok Dita Ultah
Sebulanan yl. baru latihan jalan, 2-3 langkah, sambil ngomel karena masih takut.
Kerja jauh dari keluarga, sebenarnya beda dengan idealisme berkeluarga yang aku ingin miliki. Rasanya ada essence yang hilang. Kadang sedih cuma bisa denger suara mereka via telpon, mendengar update tentang mereka dari Ningsih, dan nggak bisa be there with them.
With no regret - karena setiap cross road kehidupan aku putuskan dan aku lalui dengan kesadaran penuh. Komitmen setahun kedepan sudah disepakati. Sekarang menyiapkan segala sesuatunya untuk sampai ke sana.
Hidup menawarkan pilihan. Tugas kita memilih. Dan bertanggungjawab, dan menjalani, dan menikmati, dan mensyukuri, dan belajar sepanjang jalan kehidupan itu. Pilihan hidup, biasanya bundled dengan resiko.
Kalau sudah milih, ya otomatis resiko be with us. Itu yang bahasa project managementnya harus dimitigate, diantisipasi dan diatasi. Tapi namanya resiko, ya resiko. Tetep nempel sepanjang jalan yang harus dilalui.
Mungkin dari situ keluar pepatah, "Sak begja-begjane wong kang begja, isih luwih becik wong kang eling lan waspodo."
Dulu ada acara Mimbar Kepercayaan Terhadap Tuhan YME di TVRI. Inget nggak? Salah satu kata kuncinya ya "eling" itu. Eling itu terjemahan sederhananya "ingat", tapi seperti biasa - kosa kata Bahasa Indonesia sangat terbatas untuk bisa menjelaskan makna kata bahasa asing, termasuk Bahasa Jawa.
Eling mengandung konotasi sadar; sadar kedudukan dan posisi diri dalam semesta (jadi inget Pak Damardjati Soepadjar - dosen Filsafatku). Waspodo, mengandung konotasi alert, waspada, siap sedia, antisipatif - daripada reaktif. Kombinasi kedua kata itu menggambarkan kondisi yang rendah hati, tahu diri, sekaligus antisipatif dan waspada, siap sedia dan paham akan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
Nggak banyak rasanya orang yang sampai ke taraf itu.
Dari Dita besok ultah, sampai ke filsafat eling lan waspodo....:)
Inilah ngalembono.
dan nyawa masih Kau anugerahkan kepada Dita
Itu berarti sudah setahun penuh
Kau berikan hidup padanya.
Untuk setiap detik yang mendewasakannya, aku bersyukur
Untuk setiap suap makanan yang menyehatkannya, aku bersyukur
Untuk setiap rasa sakit yang dia harus alami, aku bersyukur
Untuk setiap air matanya, aku bersyukur
Terlebih untuk tawa yang dia bagikan padaku.
Aku sangat bersyukur.
Tuhan, jika pagi esok menjelang
dan nyawa masih Kau anugerahkan kepadaku
Itu berarti sudah setahun penuh
Kau berikan kesempatan bagiku
untuk menjadi orang tuanya.
Untuk setiap ketidaksabaranku, aku mohon ampun
Untuk setiap ketidakdewasaanku, aku mohon ampun
Untuk setiap waktu yang tidak kulewatkan bersamanya, aku mohon ampun
Untuk ketidakpekaanku untuk tertawa bersamanya, aku mohon ampun
Tuhan, jika pagi esok menjelang
dan nyawa masih kau anugerahkan buat kami berdua
mampukan kami untuk mensyukuri
dan menikmati nyawa itu,
sebagaimana seharusnya Kau mengharapkan kami menikmatinya.
kuserahkan Dita padaMu,
kuserahkan seluruh kemanusiaanku juga padaMu.
Biar apa yang kuberikan dan yang tidak kuberikan padanya,
sama dengan apa yang ingin Kau berikan dan tidak ingin Kau berikan padanya.
AMEN
(aku percaya)
They'll Be Here Tomorrow
Aku berdoa untuk keselamatan, keamanan, dan kesehatan kalian selama perjalanan.
Semoga selamat sampai di Jakarta.
Semoga kita bisa berjumpa.
Really missed you all.
Adi
Friday, September 24, 2004
Jadi Menteri Pendidikan Yuk!
Aku pernah melemparkan wacana ke Ningsih: kenapa orang bule kalo nanya kita kerja apa pake kalimat, "What do you do for living?", sementara orang Melayu seperti kita cenderung menggunakan kalimat, "Kerja dimana?"
Apa itu ada kaitannya dengan internalisasi konsep Melayu, bahwa orang sekolah supaya 'dapet kerja'? Sementara orang Barat terinternalisasi dengan konsep 'liberating education' yang mereka yakini?
Bisa jadi aku mengada-ada, bisa jadi nggak.
Coba, sekarang take a look at ourselves. Apa yang pertama kali dilakukan setelah lulus? Kirim2 CV kan? Pernah nggak kepikir untuk running own business, atau mungkin jadi kordinator tukang koran, atau bentuk-bentuk usaha mandiri lainnya? Pernah nggak?
Mungkin ada yang pernah, dan setelah dielaborate, muncul alasan kurang modal, nggak tau caranya, nggak punya channel/network, nggak ada bakat, et cetera.
Coba sekarang take a look at ourselves. Berapa diantara kita yang bener2 intens nyoba nyari duit while studying? Alasan klasiknya: takut ngganggu kuliah. Lagian ngapain, masih ada yang biayai kok.
Kenapa?
Mass character, education concept, dan social enforcement. Itu menurutku penyebabnya. Dan sialnya, ketiganya saling terkait, saling mempengaruhi dan saling dipengaruhi. Jadi kayak lingkaran setan. Never ending.
Semoga nadanya bukan nada menyesal dan menyalahkan. Kesel sih iya. Gimana nggak kesel, kalau punya pendapat bahwa bangsa ini punya potensi untuk menyelamatkan dan menentukan nasib sendiri, tapi dari waktu ke waktu terbukti bahwa bangsa ini tidak bisa mengaktualisasikan potensi dan tidak berani menanggung resiko atas penentuan nasib sendiri?
Rada nggak nyambung antara alinea di atas dengan yang di atasnya, tapi rasanya kok berhubungan juga. Internalisasi value menggumpal menjadi mass concept yang diyakini kebenaran dan dikuatkan dari waktu ke waktu. Tanpa disadari (atau sebenarnya disadari, tapi udah kadhung ruwet?), mass concept mewarnai konsep dan ide dasar pendidikan dan mempengaruhi subjek dan objek pendidikan.
Tahun demi tahun, dasawarsa demi dasarwarsa. Masalah korupsi dana pendidikan nggak usah dibahas - bikin tambah pusing.
Masih bisa dipahamikah pemahamanku? Sukur kalo masih. Tapi kalo nggak juga nggak papa. Ini cuma pendapat kok, dari seorang Adi, yang nggak punya kuasa apa2 untuk mengubah sistem pendidikan.
Balik lagi ke my major concern now: benerin dasar pemikiran dan sistem pendidikan. Ujung awalnya dari situ, untuk kemudian in longer term, bangsa ini punya human capital yang worthed dan bahkan menjadi self-started, self-regulated engine untuk mengembangkan bangsa ini. Sementara itu disiapkan, patch2 jangka pendek dijalankan secara konsisten. Kalo ada yang ngeyel, sikat. Mirip2 yang dijalanin Mahathir Mohammad 'lah.
Kalo nggak gitu, siapapun yang jadi Presiden, gak akan mampu untuk mengangkat sendirian beban negara ini.
Harus ada yang mikir ke sana.
Akhir2 ini aku sedang sering bermimpi ditelpon SBY dan diminta untuk jadi Menteri Pendidikan.
Hahahahaha……